Universal

Universal
Me and films

Silahkan Cari

Wednesday, 16 March 2011

TAKUT >>> 6 Cerita, 7 Sutradara, ....1 Jeritan...!!


Yang menyukai antologi pasti sudah menonton Paris J'taime, atau kompilasi Stephen Kings yang mampu membuat berdecak kagum. Belum lama kita dibuat merinding dengan antologi karya anak negri Thailand dengan Phobia 1 dan 2 (ditulis 4Bhia). Mungkin dibesut dengan nafas yang sama, Takut hadir di tahun 2008 memeriahkan perfilman kita dan Asia yang ternyata mendapat sambutan lumayan bagus, dan dengan kualitas yang cemerlang. Asyiknya menonton antologi adalah kita bisa membandingkan teknik penceritaan para sineas baru dan berpengalaman dengan gaya unik mereka masing-masing.

Jika diperhatikan tulisan ditepi poster diatas, maka kalian menemukan nama-nama bintang muda Indonesia yang aktingnya tak perlu dipertanyakan. Lalu bagaimana dengan plotnya? Yuk kita telusuri satu persatu.

1. Show Unit

Show Unit membuka Takut sebagai segmen pertama. Disutradarai dan ditulis oleh Rako Prijanto. Show Unit mengetengahkan cerita tentang Bayu (Lukman Sardi) dan Dinna (Marcella Zalianty) yang baru menikah. Dinna mempunyai putri dari pernikahan sebelumnya yang bernama Shira. Satu malam, saat pesta di rumah tetangganya, Bayu melihat lampu dirumahnya menyala padahal ia yakin semua lampu telah dimatikan. Bayu kemudian pulang kerumah, dan mendapati pengalaman yang akan mengubah hidup rumah tangganya.

2.Titisan Naya

Titisan Naya digarap oleh sineas favorit saya, Riri Reza. Di cerita ini Riri ingin berpesan bahwa terkadang sikap sinis terhadap warisan budaya kita sendiri bisa berakibat buruk. Dina Olivia didapuk menjadi Naya, gadis modern yang pulang ke rumah keluarganya yang sedang mengadakan upacara cuci keris keramat adat kejawen. Dasar super cuek, Naya malah asyik menggoda sepupunya (diperankan Junior Lim) dan ujungnya berakhir mistis. Di segmen ini Dina Olivia mampu menampilkan akting kuatnya. Gambaran upacara cuci keris juga mampu digambarkan dengan sangat detil lengkap dengan mantra-mantranya.

3. Peeper

Yang ini berkisah tentang pengintip yang akhirnya kena batunya. Dengan mengusung cerita perwayangan dan sosok mengerikan dewi Durga, Ray Nayoan yang saat itu masih tergolong sineas baru, mampu membawa nuansa erotis dengan mengeksploitasi keseksian Wiwid Gunawan.

4. The List

The List sedikit ber-tone komedi namun tetap seram. Shanty dan Fauzi Badilaa kebagian memerankan sepasang mantan kekasih yang mencoba balas dendam satu sama lain dengan menyewa dukun santet. Eksekusi cerita dibuat sangat cerdas namun nampak terburu-buru dibongkar sehingga kenikmatan penonton agak nanggung.

5. The Rescue

Dengan mengusung cerita Zombie ala Resident Evil, The Rescue tidak memberi ketegangan maksimal lantaran cerita sejenis sudah ratusan kali di usung. Penampilan Eva Celia belum mampu dimaksimalkan. Tapi jelas sekali kalau garapan Raditya Sidharta ini tak kalah dengan Hollywood.

6. Dara

Inilah cikal bakal dua teman akrab yang menyebut dirinya The Mo Brothers membesut Rumah Dara yang banjir pujian dan darah itu. Jika telah menyaksikan Rumah Dara, maka tak perlu lagi membaca plotnya, hanya saja di segmen ini kita hanya menyaksikan beberapa bintang saja dengan plot yang sedikit berbeda. Saya sendiri menonton Rumah Dara dulu, baru kemudian menyaksikan segmen ini. Ritme dan kebrutalan memang tidak sebanding dengan Rumah Dara versi panjang, dimaklumi saja lantaran keterbatasan durasi. Adegan Adjie terikat rantai diruangan yang mirip kamar mandi mengingatkan kita dengan adegan film brutal Hollywood "Saw" (satu-satunya jilid 'Saw' yang saya tonton lantaran yang kedua nyampe 6 bener-bener bikin muak).

Kalau harus diberi nilai, mungkin saya akan memberi nilai 9 buat Dara, dan 8 buat The List, dan yang lainnya mendapat nilai 7. Antologi ini membuktikan bahwa Indonesia masih menyimpan ratusan cerita mistis dan unik untuk digarap dengan cerdas layaknya segmen-segmen yang ada di sini. Film-film horor kita masih terlalu dangkal dan amatiran, dan Takut membuktikan bahwa sineas bukan spesialis horor ternyata sangat mampu membesut cerita horor dengan cerdas dan menarik. The List dan Titisan Naya sangat layak di buat versi panjangnya, sementara Show Unit dan Peeper cukup efektif dengan hanya menjadi cerita pendek saja.

Kita masih ingin menyaksikan film-film horor lokal berkualitas, kan?

>>Ithonx<<

Tuesday, 15 March 2011

PINTU TERLARANG >>> Akhirnya Kesampaian Juga Nonton Film Bagus Ini..!!


Sebenarnya sudah lama sekali ingin menonton film ini dan berapa kali melihat vcd bajakannya bersliweran di mall, namun serbuan Hollywood dan setumpuk episode serial teve yang terus menggoda membuat hasrat menonton film ini seolah timbul tenggelam. Entah 'kerasukan' apa akhirnya ingin sekali menonton film anak negri yang banyak dipuji-puji ini. Atas bantuan teman baik saya Erwin yang punya keanggotaan rental vcd waralaba, akhirnya daku bisa menyewa 5 film yang lumayan susah dicari, dua diantaranya adalah Pintu Terlarang dan film antologi Takut.

Berbekal pengetahuan bahwa Pintu Terlarang banyak mendapat apresiasi di luar negri dan ending yang twist, maka cukuplah alasan memelototi film besutan Joko Anwar ini. Jika kalian belum pernah dan berniat menonton film ini, jangan sekali-sekali membaca sinopsisnya di manapun, apalagi wikipedia yang sangat tega membongkar twist endingnya. Cukup duduk manis (atau berbaring) dan nikmati alur cerita yang membuat penasaran ini.

Pintu Terlarang berkisah tentang Gambir yang berada di puncak karir sebagai seniman. Seni yang dihasilkan adalah patung wanita hamil. Sang istri, Talyda nampak begitu senang mendampingi suaminya yang tampan dan sukses di tiap eksebisi yang diadakan. Perlahan, lapis demi lapis misteri tentang pasangan ini terkuak. Sang ibu, teman-teman dan pemilik galeri ternyata menyimpan rahasia besar yang mengungkung kehidupan Gambir. Di rumah besarnya, Gambir menemukan sebuah pintu yang terkunci rapat, saat hendak di buka, Talyda memperingatkan Gambir agar jangan pernah membuka pintu tersebut apapun yang terjadi.

Sepanjang cerita, penonton diajak menerka-nerka apa yang sebenarnya rahasia besar yang terselubung, dan (maaf telah merusak kenikmatan menonton) mau tak mau mengingatkan kita dengan film Leonardo DiCaprio tahun 2010 lalu dan juga film tegang John Cussack bejudul Identity.

Joko Anwar sukses mengadaptasi novel dengan judul yang sama karya Sekar Ayu Asmara ini. Ketegangan dibuat merambat dan sinematografi sangat memukau. Setting dibuat sedikit noir sehingga kita seolah dibawa ke tempat fiktif namun universal tapi tetap bernafaskan Jakarta. Coba terka pesan apa yang ingin disampaikan Joko dengan menampilkan reklame klasik dengan tulisan "Be a good wife. Get a job"

Fachry Albar yang juga membintangi film keren Joko Anwar lainnya, Kala, mampu menampilkan akting cemerlang. Kekuatan aktingya dikuras habis-habisan untuk menampilkan performa yang luar biasa sama dengan Leonardo DiCaprio. Pemain-pemain lainnya juga tak kalah hebatnya, Marsha Tomothy yang memerankan Talyda mampu menjaga kualitas aktingnya. Ariyo Bayu, Otto Jauhari dan Tio Pakusadewo patut juga dipuji. Yang tak kalah juga adalah Henidar Amroe yang menjelma menjadi Ibu Gambir, wanita ini tidak nampak bersusah payah berakting namun mampu menampilkan kualitas yang patut dipuji juga.

Sayang sekali, film produksi tahun 2009 ini tidak diapresiasi dengan baik oleh penonton di Indonesia. Mungkin penonton lokal belum mampu menerima film dengan plot membingungkan dengan bumbu psikoligis berkualitas. Untungnya, menangnya film ini di luar negri membuat Joko Anwar menjadi semangat membesut film-film lainnya. Can't wait to see the next...

>>Ithonx<<

Saturday, 12 March 2011

TERRA NOVA Diundur Penayangannya, Kenapa Ya?

Serial baru besutan Stephen Spielberg ini jelas banyak ditunggu fans fiksi ilmiah dan dengan menyandang nama Spielberg, serial ini bakalan tidak main-main dengan cerita dan efek spesialnya. Premis boleh terdengar basi, namun jangan salah, kejutan dan plot tetap menjadi trade mark sineas jenius itu. Sebelumnya berita tentang Terra Nova sudah dibahas di postingan ini:

TERRA NOVA >> Avatar meets Jurassic Park> Serial Baru Besutan Steven Spielberg, Baca Official Release Sinopsisnya disini...!!


Lalu kok kini terdengar kabar kalau Terra Nova tidak jadi tayang seperti yang dijadwalkan? Menurut desas-desus sih katanya serial ini banyak menyedot dana dan waktu untuk hanya jadi serial teve, lalu gimana dong? Nah ini pengumuman resmi dari Fox:

“Terra Nova is one of the most ambitious television series ever produced. The cutting-edge visual effects used to create the world of Terra Nova, which is of massive scope and scale, require more time to be realized. This aspect of the series is essential, so we are pushing back the special early preview date to give the visual effects team the time needed for their ground-breaking work.”

Oh gitu, jadi supaya nampak realistis dan menkajubkan, maka butuh waktu untuk menciptakan set dan efek khusus, bagus deh. Malahan makin gak sabar nunggunya

>>Ithonx<<

Tuesday, 8 March 2011

BONES SEASON 3 >>> Dan Kemudian Datanglah Dr. Sweets....!


Musim ketiga tidak mengemas episode sebanyak dua musim sebelumnya, sekitar 15 (atau 16 ya?) episode saja. Ritme cerita masih tetap sama. Di antara kasus-kasus pembunuhan yang harus dipecahkan Booth dan Bones beserta timnya di Jeffersonian, konflik pribadi juga makin seru untuk dinikmati. Booth dan Bones masih tetap jual mahal mengakui bahwa sebenarnya mereka saling suka. Angela dan Hodgins memutuskan untuk mencari tahu keberadaan suami Angela supaya bisa mengurus surat cerai dan mereka bisa menikah. Private Investigator pun disewa dan Angela pun ikut program hipnosis lantaran dia sendiripun tak ingat nama sang suami yang ia nikahi di Fiji tersebut. Berhasilkah?

Di sela kasus-kasus 'biasa', kasus Gormogon mendapat porsi lebih dari tiga episode. Di ceritakan bahwa di tulang belulang yang kerap di temukan terdapat bekas kunyahan. Ternyata ada pembunuh berantai di luar sana yang sangat suka memakan daging manusia. Ya, seorang kanibal. Penyelidikan Gormogon akhirnya bermuara ke sang 'pembantu' Gormogon yang ternyata ada di dalam laboratorium Jeffersonian sendiri! Saling curiga pun terjadi. Dan sangat mengejutkan ketika penonton tahu siapa orang tersebut. Sigh!.

Di akhir musim kedua diceritakan bahwa ayah Bones yang diduga pembunuh berantai yang membakar korban-korbannya tertangkap oleh Booth. Hal ini membuat konflik tersendiri bagi Bones dan Booth, bahkan tim Jeffersonian juga saat kasus ini harus diselasaikan di meja hijau. Bones, Russ dan Clark harus melawan tim Jeffesonian: Cam, Zach, Hodgins, Angela dan bahkan Booth sendiri. Booth sudah pasti ditempatkan diposisi yang tak mengenakkan namun Bones mengerti benar tugas Booth (kelucuan-kelucuan di ruang sidang sangat asyik disaksikan). Lain halnya dengan Angela yang dengan tegas tidak mau bersaksi di meja hijau.


Highlight terasyik di musim ini adalah hadirnya Dr. Lance Sweets. Pemuda berusia 24 tahun ini punya sederet gelar doktor yang memukau namun sangat konyol dan selalu jadi guyonan Booth. Awalnya Sweets di tugaskan untuk mengevaluasi kinerja kemitraan Bones dan Booth yang terancam dipisahkan lantaran kasus ayah Bones. Mau tak mau Bones dan Booth harus terperangkap dalam sesi demi sesi evaluasi analisa psikologis Dr. Sweets yang di mata Booth tak lebih dari anak kecil sok tahu. Bagaimana Booth harus mengekpresikan perasaannya dan selalu mengabaikan Sweets sangat seru disaksikan. Perlahan Sweets membuat Bones dan Booth terkesan dan mengajak Sweets masuk ke tim Jeffersonian sebagai profiler. Bergabungnya Sweets makin menambah ramai cerita. Dengan kecerdasan dan kemudaannya, Sweets kerap menampilkan kekonyolan-kekonyolan seru dengan analisa psikologisnya yang hebat namun kehidupan sosialnya yang buruk. Sweets sangat senang menganalisa karakter Booth dan Brennan dan sudah lama tahu kalau mereka saling suka dan diam-diam melakukan eksperimen yang membuat Bones berang.

Musim ini ditutup dengan episode penyelidikan pembunuhan seorang penyanyi kafe yang membawa Bones dan Booth bertemu dengan seorang wanita tambun yang posesif agresif yang menjurus ke psikopat. Sweets sudah memperingatkan Booth lewat insting profilernya, namun dasar Booth yang sok hebat, nasehat Sweets ia abaikan dengan alasan bahwa ia hanya seorang wanita kesepian. Ternyata berakibat fatal. Si wanita psikopat nekat menembak Bones yang sedang bernyanyi di panggung, namun Booth berhasil menghalangi dengan akibat peluru tersebut bersarang ke dadanya. Booth tewas. What?

>>Ithonx<<

Saturday, 5 March 2011

SPARTACUS: GODS OF THE ARENA >>> Selamat Datang di Rumah Para Gladiator...!!!

Masih dengan formula yang sama: Violence and Sex, kisah sebelum datangnya Spartacus ini mengalir dengan pas. Dengan cerdas editor memberi secuil apa yang sebelumnya telah terjadi di Spartacus: Blood and Sand di awal episode, dan lalu mengingatkan kembali akhir ceritanya. Trik ini mampu membuat penonton makin penasaran dengan sekuel Blood and Sand walau nantinya pemeran Spartacus bukan lagi Andy Whitefield.

Gods of The Arena memberi porsi besar terhadap ekplorasi tokoh-tokoh penting di serial kontroversial ini. Kita di beri lihat bagaimana awal mula Crixus menjadi gladiator jawara Capua yang juga mirip dengan awal mula Spartacus menjadi gladiator. Di ceritakan juga bagaimana kisah cinta si gladiator gay Barca dan lalu mulai berteman dengan Crixus, dan menariknya kisah mantan gladiator Oenomaus menjadi Doctore alias pelatih para gladiator.

Penonton juga ikut menelusuri asal usul bagaimana Batiatus dan Lucretia mendapat warisan berdarah ludus (tempat penempaan gladiator). Dengan segala akal bulusnya, pasutri ini mampu berbisnis pembibitan gladiator dengan segala intrik politik dan pengkhianatannya. Kita diperkenalkan dengan tokoh Gaia, janda teman Lucretia ini sama culasnya namun berakhir tragis, kemudian barulah kita tahu mengapa Lucretia suka memakai wig berwarna merah.

Yang paling membetot perhatian tentu saja cinta segitiga antara Gannicus, Oenomaus dan Melitta. Oenomaus (kemudian menjadi Doctore) adalah suami dari Mellita yang merupakan budak kepercayaan Lucretia. Mereka berdua adalah teman baik Gannicus, galdiator favorit Batiatus namun diremehkan oleh ayah Batiatus, pemilik rumah para gladiator. Akibat disuruh berhubungan badan dengan Melitta, Gannicus akhirnya jatuh cinta dengan Melitta.

Tokoh-tokoh budak cantik lainnya juga mendapat porsi besar namun berakhir tragis semisal Naevia (di Blood and Sand menjadi kekasih Crixus) dan Diona. Sementara gladiator culas Ashur juga diberi porsi lumayan dengan diberi latar belakang bagaimana ia pertama masuk ludus dan akhirnya dibuat pincang oleh Crixus.

Kecuali Spartacus, semua tokoh penting di Blood and Sand hadir kembali. Penulis cerita harus diberi acungan jempol atas usahanya memberi background setimpal atas tokoh-tokoh yang terabaikan semisal Barca, Ashur, Oenomaus, Naevia maupun Crixus di Blood and Sand. Tim make up juga layak mendapat pujian lantaran berhasil menampilkan tokoh-tokoh tersebut lebih muda dari di Blood and Sand.

Dustin Clare, aktor dengan lumyan banyak penghargaan di Australia ini, memang belum mampu menyamai karisma Andy Whitefield, namun untungnya dia diberi peran Gannicus yang diciptakan bukan untuk menggantikan Spartacus. Perubahan bentuk tubuhnya cukup spektakuler dari terkahir terlihat di serial Satisfaction.

Manu Bennett, Peter Mensah, Lucy Lawless, John Hannah dan aktor-aktor lainnya sangat hebat menampilkan akting dan juga memamerkan tubuh mereka. Lucy Lawless makin tidak canggung bugil, dan Manu Bennet si Crixus pun makin sering full frontal mempertontonkan 'tongkat'nya.

Kandungan sex dan kekerasan (mutilasi dan cipratan darah) sudah terlalu sering di bahas, jadi berhati-hatilah bila membeli DVD-nya agar tidak ditonton anak-anak.

Bermuatan hanya enam episode, mini seri ini cukup efektif mengisi kekosongan jeda musim pertama dan kedua Blood and Sand lantaran pencarian aktor pengganti Andy Whitefield. Dan tak tertutup kemungkinan tokoh Gannicus akan dihadirkan lagi di musim kedua Blood and Sand. Hmm...pasti seru melihat Spartacus, Crixus dan Gannicus saling bantu melawan kekaisaran Romawi yang sangat tidak manusiawi itu.

>>Ithonx<<

ELIZABETH HURLEY & CARY ELWES BERGABUNG DI WONDER WOMAN...!!


Adrianne Palicki sudah dipastikan bakal memakai kostum seksi Wonder Woman (baca posting sebelumnya), namun berita tentang siapa yang bakal memerankan tokoh jahat atau villain sang wanita ajaib tetap marak beredar. Walau hanya berupa episode pilot dan belum tentu akan berlanjut menjadi serial menahun layaknya Smallville, tetap saja Wonder Woman-nya David E. Kelley ini menjadi buah bibir.

Tersiar kabar kalau si seksi Liz Hurley bakal memerankan Veronica Gale, pemilik perusahaan kosmetik besar yang menaruh dendam dengan sang pahlawan wanita
kesayangan kita tersebut. Berita itu diamini oleh Liz yang menulis di twitter seperti ini : “Thrilled to be doing the NBC pilot Wonder Woman. I’ll be playing the evil villain. Can’t wait.”. Hadirnya Liz tentu saja akan membawa atmosfer seksi ke level yang lebih tinggi lantaran menghadirkan Liz tanpa mengekploitasi keseksian wanita matang ini akan menjadi sia-sia saja. Setuju kan?

Sementara yang bakal menemani Liz Hurley adalah aktor kawakan Cary Elwes yang bakal memerankan seorang CEO setia kepada atasannya.

Semua memang masih belum begitu jelas ya. Kita tunggu saja lah.

>>Ithonx<<

Wednesday, 2 March 2011

JENNIFER'S BODY & DAYBREAKERS >>> Running Away From TV Series For Today

Di sela setumpuk episode The Listener, Six Feet Under, Kitchen Confidential dan Human Target yang masih menggoda buat ditonton, tiba-tiba rasa bosan menyergap dan rasanya ingin melihat tayangan yang sekali tonton saja namun berkesan.

Mata pun kemudian tertuju pada setumpuk DVD bajakan di sudut kamar. You know what, jumlah film yang saya tonton perminggu terkadang tidak lebih dari lima. Bandingkan dengan jumlah episode serial teve yang saya tonton sehari; mungkin sekitar 10 episode perhari.

Tiap kali ke mall, saya selalu menyempatkan ke gerai DVD bajakan (bahkan terkadang mampir kesana adalah satu-satunya alasan main ke mall, hehe) untuk membeli dua atau tiga film. Namun sesampai dirumah kadang hanya saya kaparkan saja hingga berminggu-minggu sampai mood untuk menonton film datang, juga lantaran selalu tergoda dengan serial teve yang makin menarik saja. Apalagi ketika menonton film kemudian film yang ditonton tidak sesuai dengan harapan, maka rusaklah mood menonton film lainnya.

Hari ini tiba-tiba 'menemukan' Jennifer's Body' dan 'Daybreakers'. Dan ternyata kedua film tersebut lumayan enak diikuti.

Jennifer's Body mungkin tidak terlalu istimewa walau tidak bisa dibilang jelek. Ide mengorbankan gadis perawan namun ternyata tidak perawan lagi sehingga menjadi bencana merupakan ide yang lumayan menarik. Tidak orisinil memang, namun dengan alur mundur dan narasi Amanda Seyfried mampu membuat cerita sederhana pertemanan dua gadis muda ini lumayan tidak membosankan.

Soal akting, okelah ini bukan film yang membuat kritikus film atau panitia oscar dan globe menyerahkan pialanya kepada Amanda Seyfried dan Megan Fox, namun dua wanita muda cantik ini masih nampak natural memainkan peran anak SMA walau usianya tak lagi remaja.

Ending cerita bisa dengan mudah ditebak dan secara keseluruhan tidak memberi perasaan apa-apa saat usai menontonnya, namun bagi yang ingin menikmati hiburan tanpa susah payah berpikir, Jennifer's Body adalah pilihan yang tidak salah. Oh ya, di sini ada Adam Brody, inget? si Seth dari The OC.

Analisa yang terlalu berlebihan sangat tidak disarankan saat menonton film ini. Cukup duduk (atau berbaring) dengan tenang dan nikmati ceritanya. Asal tahu saja, satu episode Supernatural terkadang jauh lebih berkesan daripada plot film ini.


Film kedua yang saya tonton hari ini adalah Daybreakers. Premis cerita memang tidak baru, namun ide cerita tetap fresh dan memikat. Film vampir memang sudah sangat tak terhitung lagi jumlahnya, namun kreatifitas mengulik-ulik celah plot adalah milik film ini.

Di tahun 2019, populasi manusia mendekati kepunahan lantaran para vampir menguasai bumi dan hidup layaknya manusia. Di sebuah korporat, manusia di pelihara hanya untuk diambil darahnya. Para vampir terus mengembangkan teknologi untuk mencari pengganti darah manusia yang merupakan makanan utama mereka. Vampir yang menghisap darah vampir lain atau darahnya sendiri akan menjelma menjadi makhluk mengerikan dan akan dihukum mati: dijemur diterik sinar matahari.

Vampir ilmuwan, diperankan oleh Ethan Hawke, Edward terus mencari darah pengganti buatan namun selalu gagal hingga akhirnya bertemu sekelompok manusia yang mampu mengembalikan vampir menjadi manusia dengan cara sederhana. Niat mereka membuat mereka berjuang mati-matian melawan para tentara vampir dan petinggi pemerintah yang tidak menyetujui ide tersebut.

Harus saya katakan bahwa Daybreakers adalah film yang cukup menawan. Drama vampir-manusia ini mampu menyuguhkan dilema politik dan humanisme yang menyentuh. Sentilan tentang keinginan beberapa gelintir manusia untuk hidup abadi namun kehilangan nilai-nilai kemanusiannya cukup membuat kita merenungi hakikat menjadi manusia. Sam Neil (memerankan siapa ya, lupa namanya) yang akhirnya menyuruh saudara Edward menjadikan putrinya seorang vampir cukup memberi warna film ini.

Adegan-adegan sadis yang penuh ceceran darah tidak begitu mengerikan namun tetap mampu membuat miris. Daybreakers adalah sebuah drama mencekam yang berusaha membangun konflik diatas logika para penontonnya dengan premis 'what if'. Film ini tidak akan memuaskan bagi yang menginginkan eksyen dan pertempuran yang memenuhi keseluruhan durasi.

Daybreakers memberi kesan mendalam bagi yang mencari tontonan drama vampir dengan cerita berbobot.

Hmmm...lumayan deh dua film hari ini. Mood menonton film jadi bagus.

>>Ithonx<<

Tuesday, 1 March 2011

BONES SEASON II >>> Tetap Memukau...!!


Memasuki musim kedua, BONES masih sangat enak untuk dinikmati episode demi episode. Tak seperti serial bernafas police procedural lainnya, BONES memberi porsi besar berkembangnya interpersonal plot dibanding misalnya CSI dan NCIS dan spin off-nya. Di sela-sela menangani kasus yang rumit, hubungan (kalau bisa di bilang) cinta terpendam antara Bones dan Booth terus di ketengahkan dengan sangat dinamis.

Latar belakang Booth sedikit dikuak. Mantan pacar dan anak laki-lakinya sedikit memberi bumbu dan penggalian karakter yang sangat berarti bagi karakter sentral ini. Demikian pula dengan Bones atau Temperance, munculnya ayah dan kakak laki-lakinya menguak juga rahasia besar masa lalu dan keluarganya. Munculnya tokoh Sullivan (dipanggil Sully) yang menggantikan Booth sementara dirinya harus menjalani terapi juga memberi ritme drama percintaan yang sangat enak diikuti.


Para Squints (demikian Booth memanggil anggota team Bones) juga ikut memeriah kan jalan cerita yang makin tidak membosankan. Zach dengan kalimat-kalimat dan ide jeniusnya tetap memberi warna dan kerap membuat penonton tersenyum oleh ulahnya. Hodgins dan Angela mulai merajut benang asmara dan di akhir musim memutuskan untuk menikah namun......

Highlight di musim ini adalah hadirnya tokoh Camille Saroyan. Bos baru di Jeffersonian Institute ini awalnya sangat sulit beradaptasi dengan ritme kerja para anggota tim Bones, bahkan sering bersilang pendapat dengan Bones. Apalagi Camille pernah menjalin hubungan dengan Booth. Perlahan, Dr. Camille Saroyan mampu beradaptasi dengan baik lantaran sifatnya lebih mirip Angela ketimbang Bones yang kurang interpersonal skill.

Akhir musim ditutup dengan sangat cantik. Bones dan Booth berdiri di altarr; siap menikah, nah loh? Dan Zach si bocah S3 jenius ingin meninggalkan Amerika. Wah..

>>Ithonx<<