Universal

Universal
Me and films

Silahkan Cari

Showing posts with label Movie Review. Show all posts
Showing posts with label Movie Review. Show all posts

Saturday, 14 July 2012

The Amazing Spiderman >> Tobey VS Andrew

Membandingkan Spiderman versi Andrew Garfield dan Tobey McGuire pastilah tak akan ada habisnya. Pro kontra atas reboot yang terlalu cepat  sudah jadi berita basi di mana-mana. Yang jelas setelah di rilis dan di tonton apa reaksi banyak orang? Satisfied? tentu saja. Disappointed? Mungkin saja. 

Mungkin ingin membawa superhero ini ke level yang lebih gelap dan dewasa seperti Batman Begins, The Amazing Spiderman berusaha tidak main-main lagi dengan ekplorasi karakter geeky Peter Parker. Penonton tak lagi berpikir keras mengapa plot The Amazing beda dengan Spiderman. Terus terang, plot yang ada cukup menyegarkan dan tanpa banyak pengulangan-pengulanga yang membuat jemu mengingat Spiderman versi Tobey masih begitu membekas di benak.

Soal kostum yang sedikit lain juga tak begitu mengganggu. Bahkan gambaran Spidey yang kerap membawa backpack benar-benar sentuhan keren yang tak dapat di Spiderman-nya Tobey.

Andrew mungkin tak membuat tubuhnya berotot luar biasa layaknya Tobey di awal Spiderman, namun penyelaman karakter, mimik wajah dan pembawaannya malah membuat The Amazing Spiderman menjadi sangat enak di ikuti.

Mungkin kita bisa bilang kalau The Amazing Spiderman tidak menghasilkan banyak memorable scene (inget adegan ciuman terbalik Spidey dan MJ saat hujan deras?), tapi hadirnya Emma Stone sebagai Gwen Stacy bener2 luar biasa. Pembawaan dan suara serak2nya begitu enak di lihat.

Sally Field yang beken di serial Brother and Sister dan aktor kawakan Martin Sheen yang berperan sebagai paman dan bibi Peter juga memberi ruh tersendiri atas film ini. Dialog-dialognya terasa pas dan tak berlebihan.

The Amazing Spiderman tidak luar biasa, namun enak dinikmati tanpa harus dibanding-bandingkan dengan Trilogy Spidey yang sudah ada. Patut di tonton dah.

>>Ithonx<<

Wednesday, 19 October 2011

CAPTAIN AMERICA: FIRST AVENGER >>> Gak Sabar Nunggu THE AVANGERS

Gempuran film2 superhero di tahun 2011 memang dahsyat. Satu yang mencuri perhatian dan berhasil meraup banyak uang adalah sosok superhero Marvel yang ternyata memang sangat enak untuk dinikmati. BIntang utama-nya Chris Evans memang sudah pernah melakoni peran superhero dalam Fantastic Four, namun nampaknya peran Captain America inilah yang mengangkat nama Evans ke level lebih tinggi. Uniknya, media terutama internet banyak membahas perubahan tubuh Evans yang luar biasa dan gambar-gambarnya tanpa kaos yang menunjukkan otot dada-nya menjadi promosi hebat, padahal gambar itulah satu-satunya adegan Chris Evans bertelanjang dada dalam film ini. Memang, perubahan tubuh Evans yang luar biasa banyak menginspirasi para pria yang ingin membentuk otot, tapi sebenarnya tak lebih istimewa dari apa yang dilakukan Taylor Lautner kan?




Oke, di dalam filmnya Evans yang memerankan Steve Rogers digambarkan kurus ceking namun bercita-cita luhur untuk menjadi seorang tentara yang membela negaranya dalam memerangi Nazi. Tentu saja yang ada di layar bukan tubuh Evans sebenarnya. Kepalanya sih iya, namun tubuhnya tentu saja hasil CGI. Banyak yang menganggap CGI-nya sangat sempurna, namun bagi Ithonx terasa aneh lantaran kepala Evans terlihat begitu besar. Tapi untunglah kita tak perlu berlama-lama melihat Chris Evans eh Steve Rogers yang kurus dan pendek. Dengan bantuan serum ajaib, Steve Rogers berubah menjadi Captain America yang sempurna.

Cerita kemudian mengalir standar. Kisah cinta dan persahabatan menjadi bumbu yang mengantar ke plot utama yaitu memerangi villain. Tak ada lonjakan emosi yang berarti layaknya saat kita menonton Spiderman-nya Tobey McGuire. atau Batman-nya Christian Bale. Tak juga saat Rogers kehilangan sobat kentalnya, Bucky. Tapi tak apalah, mungkin superhero yang satu ini memang dibuat dengan tone yang berbeda.

Kita juga harus jeli saat di awal cerita kita disodori prolog yang nantinya mengantar penonton ke ending-nya. Sesuai judulnya: The First Avangers, maka kita harus maklum jika film ini hanya 'sekedar' mengenalkan siapa itu Captain America. Yang sudah menonton Thor, maka bersiaplah nanti kehadiran Thor, Captain America, Hulk, Iron Man, dan lain-lain dalam satu film superhero paling ditunggu: The Avangers. Ah, gak sabar.

>>Ithonx<<

Sunday, 16 October 2011

DON'T BE AFRAID OF THE DARK >>> Monster of The Toy Soldiers

Baru disodori film rumah berhantu di Insidious, jadi maklum saja jika harus membanding-bandingkan film ini dengan film setan-setanan tersebut. Film ini memang patut ditunggu apalagi dengan menjual nama Guilermo Del Toro yang makin mantap dengan karya-karya horor yang cerdas. Bagi Ithonx, Shyamalan, Del Torro, Craven adalah jaminan buat horror bermutu tanpa ceceran darah terlalu berlebihan. Del Torro memang tak duduk di kursi sutradara, hanya menulis naskahnya saja, namun tetap saja nama besar yang terpampang di poster sangat menjual.

Balik lagi ke perbandingan film ini dengan Insidious. Banyak kesamaannya memang: Rumah berhantu, pasangan muda, dan anak kecil yang diteror menjadi klise jika saja tidak di olah dengan baik.

Don't be afraid of the dark di buka dengan adegan mendebarkan seorang bapak tua yang mencongkel gigi pelayannya demi mempersembahkan gigi-gigi tersebut agar sang anak kembali padanya. Namun yang terjadi adalah sang bapak tersebut terseret kedalam "alam" lain yang ada di basement rumah super besar-nya tersebut. Ithonx pribadi menilai adegan ini merupakan spoiler. Lebih enak jika cerita ini di buat jadi flashback saja.

Scene kemudian berganti dengan cerita Alex dan Kim yang menjemput bocah cantik bernama Sally dari bandara. Diketahui kemudian bahwa Sally adalah putri Alex yang dikirim sang istri, bercerai dengan Alex, agar tinggal di rumah besar Alex. Sally nampaknya sulit menerima kenyataan bahwa ayah-ibu-nya bercerai, apalagi sang ayah sudah akan menikah dengan Kim.

Konflik klise antar ayah-putri-calon ibu tiri bergulir klise. Untungnya tak dibuat berlarut-larut lantaran Sally menemukan jendela basement dirumah baru mereka. Jelas dengan mudah kita bisa menebak bahwa rumah baru Alex dan Kim adalah rumah yang sama yang dtinggali bapak tua yang bernasib malang di awal cerita.

Dengan insting ingin tahu yang berlebihan, Sally tanpa sengaja melepas makhluk-makhluk imut takut cahaya mengerikan yang menginginkan gigi-gigi dan nyawanya. Selebihnya cerita bergulir dengan pakem yang sangat-sangat klise. Yup, bocah yang sering berulah tak dipercaya saat apa yang ia ceritakan adalah kenyataan. Sang bocah mencari bukti namun tak digubris hingga akhirnya teror datang dan semuanya terlambat....

Semua misteri, dongeng, dan teror terkuak di menit-menit terakhir hingga menuju akhir yang lumayan bikin miris. Keseluruhan cerita memang tak bisa disebut gemilang, namun tetap saja klimaks yang baik, cerita yang tak bertele-tele dan keingin-tahuan penonton akan ending-nya menjadi nilai bagus untuk film ini.

Rasa-rasanya sepanjang menyaksikan film ini kita diingatkan film-film tentang makhluk2 imut bengis semacam The Gremlins, Toy Soldiers, atau beberapa episode The Twilight Zone. Tapi tak apalah, cerita yang tak orisinil ini mampu dikembangkan dengan baik kok.

Katie Holmes bermain sangat datar disini. Mungkin karena naskah tak memberi banyak ruang untuk karakternya berkembang, namun ending film ini akan membuat kita terus mengenang karakter Kim yang ia mainkan. Sama halnya dengan Guy Pierce. Aktor tampan kawakan ini kurang mengena memerankan sosok bapak. Bandingkan dengan pasangan Patrick Wilson dan Rose Byrne di Insidious yang sangat tertekan secara psikologis.

Akhirnya tumpuan film ini hanyalah akting si bocah Bailee Madison yang memerankan Sally. Memang Bailee bukanlah Dakota Fanning yang brilian itu. Namun aktingnya cukup menggigit. Mungkin karena jam terbangnya diserial teve lumayan tinggi ya.

Secara keseluruhan, Don't be afraid of the dark tak memberi 'ketakutan' yang hebat bahkan terasa biasa tanpa cita rasa horor yang kental. Tapi sebagai tontonan sekali tonton, lumayanlah...

>>Ithonx<<



Thursday, 22 September 2011

FAST 5 >>> THE SHAVED HEADS RULE...!!


Sebagai franchise yang paling mengandalkan kebut-kebutan mobil sebagai jualan utama, film yang dibintangi pria-pria macho ini masih yang terdepan dan belum terkalahkan. Dan nampaknya seri-seri berikutnya akan terus dibuat.

Seri ke 4 sangat membuat penonton kecewa dengan matinya tokoh yang dimainkan Michelle Rodriguez, namun kejutan manis akan muncul di seri ke enam nampaknya jika menilik ending yang ada pada instalmen ke 5 ini.

Fast 5 lebih istimewa dalam beberapa hal. Pertama di sutradarai Justin Lin yang menyutradaria Tokyo Drift yang bagi banyak orang tidak diakui sebagai seri Fast and Furious. Namun ternyata Justin Lin mampu memboyong pemain-pemain di seri sebelumnya. Tyrese Gibson yang muncul di seri ke 2 menggantikan Vin Diesel berhasil digaet. Sementara bintang-bintang utama, kecuali Michelle, tetap melanjutkan perannya. Jika saja Lucas Black, Michelle Rodriguez, Devon Aoki, dan Eva Mendez (cuma cameo di seri ini) ikut bermain juga, maka film ini layak mendapat A plus. Namun Eva dan Michelle sudah dipastikan muncul di seri ke-6. Untungnya hadirnya Dwayne Johnson mampu mengangkat seri ini ke level adrenalin tingkat tinggi. Dan jadilah film ini dikuasi binntang-bintang berotot berkepala pleontos: Vin Diesel, Dwayne Johnson, dan Tyrese Gibson.

Plot masih seputar usaha Don, Brian, dan Mia yang jadi buronan. Kali ini mereka terperangkap di Brazil dan dikejar-kejar para polusi korup sekaligus diburu oleh agen pemerintah yang tak lain Luke Hobbs yang diperankan Dwayne The Rock.

Dengan pertolongan Vince (inget? yang naksir Mia di seri 1?) dan rekan-rekan lama mereka, Dom cs merencanakan hal-hal gila yang tentu saja melibatkan mobil dan baku hantam di jalan raya.

Bertemunya Luke dan Dom lumayan monumental dan cukup memberi ketegangan tersendiri. Duo Big Muscle ini terlibat baku hantam yang sangat seru. Hadirnya Vince (walau harus tewas, spoiler!!!) memberi kesan baik sehingga seri ini nampak punya koherensi yang bagus. Lainnya Tokoh Han yang sedikit mengganggu. Loh kenapa? Han awalnya tampil di Tokyo Drift yang kita tahu adalah cerita paling terdepan. Sementara kita juga tahu Han tewas di akhir cerita Tokyo Drift penonton menjadi kasihan dengan tokoh ini walau diakhir cerita dia bahagia. Jika Lucas Black tampil di seri selanjutnya, maka tokoh Han jelas harus ditiadakan.

Oh ya, hadirnya Tyrese Gibson dengan banyolan2 kocaknya membuat film ini segar layaknya di seri ke-2.

Indikasi bahwa tokoh yang diperankan Michelle Rodriguez akan kembali cukup besar. Hadirnya Eva mendez di akhir cerita menandakan bahwa dua wanita seksi tersebut bakal tampil lagi. Sementara tokoh Dom terlihat bahagia mendapat kekasih, apa jadinya jika sang pacar yang semua orang kira telah tewas, Leti, ternyata masih gentayangan menjadi bajing loncat?

Apa The Rock akan hadir juga? Entahlah, tapi jika benar tentu saja akan menjadi sajian yang menggigit. Atau mungkin kali ini Dominic Purcell saja yang di gaet. The other muscular shaved head must be in.

Memang The Fast and The Furious orisinil dianggap klasik karena adegan car race-nya yang tak terlalu berlebihan sebagai film eksyen, dan sequel2nya dianggap hanya film2 mediocre dengan eksyen yang tidak realistis. Tapi misi film ini sebagai hiburan haruslah tetap dihargai. Dan lagi, antusiasme penonton adalah darah bagi kelangsungan franchise ini.

>>Ithonx<<

Monday, 29 August 2011

SUPER 8 >>> ET-nya J.J Abrams??



Nama J.J Abrams dan Steven Spielberg adalah jaminan sebuah film misteri atau futuristik. Dengan terpampang dua nama besar tersebut, film Super 8 tak perlu memasang nama bintang besar lantaran kita semua maklum kalau duo tersebut lebih menjual plot dan spesial efek. Seperti yang diberitakan, proses pembuatan Super 8 amat sangat dirahasiakan baik plot maupun lokasi syuting. Sementara trailer yang lepas juga tak memberi banyak bocoran walau mampu membuat calon penonton mati penasaran.

Dan akhirnya sampailah penantian itu.

Super 8 sendiri adalah nama jenis rol film yang terkenal di era 80 an. Jadi sudah dipastikan bahwa film ini bersetting tahun 80an. Cerita berawal ketika sekelompok bocah yang terobsesi menjadi film maker sedang membuat film bergenre zombie. Bocah-bocah tanggung ini begitu bersemangat menyelesaikan film mereka, dan diselingi dengan cerita konflik keluarga mereka masing-masing. Saat syuting di sebuah stasiun kereta api, tak sengaja mereka menjadi saksi kecelakaan kereta api barang yang dahsyat (adegan ini luar biasa). Dan tak sengaja kamera super 8 mereka menangkap gambar sebuah sosok mengerikan.

Peristiwa demi peristiwa aneh mulai terjadi di kota para bocah cerdas tersebut dan kunci untuk menguak apa yang terjadi ada pada rekaman fillm super 8 mereka dan jika para bocah inilah yang berhasil menyelesaikan semua kekacauan....penonton diharap jangan kesal ya.

J.J Abrams sukses menghadirkan nuansa 80-an yang membuat banyak orang bernostalgia dengan dekadenya Cindy Lauper itu. Adegan yang banyak memakai spesial efek tak perlu diragukan lagi. Namun...yang disayangkan adalah eksekusi cerita yang boro-boro memberi twist ending, yang ada hanyalah penyelesaian yang dangkal seolah film ini tak hanya diperanutamai para bocah, namun juga di khususkan utk para bocah juga.

Tak hanya itu juga, kehadiran sosok misterius yang ditunggu-tunggu pun tak kalah mengecewakan. Kok begitu? You see yourself, dah.

Tapi paling tidak J.J Abrams sudah berhasil menghadirkan cerita misteri fiksi ilmiah yang di tiga perempat durasinya lumayan bikin kita tercengang. Buat lagi yang seru ya, Kang Abrams.

>>Ithonx<<

BAD TEACHER >>> Is She That Bad?


Cameron Diaz di bilang sudah kehilangan pesonanya lantaran beberapa film terakhirnya tak selaris dulu. Namun Bad Teacher yang dibantu oleh pesona sang mantan pacar Justin Timberlake dan Jason Segel tak bisa dibilang gagal.

Terus terang apa yang saya utarakan disini sangat subjektif lantaran saya adalah penggemar dan kolektor semua CD musik yang dibuat Justin Timberlake yang somehow terkadang merasa sebagai Bad Teacher juga on certain level. Maka jika saya bilang Bad Teacher adalah film wajib tonton, maka faktor Justin Timberlake dan "teacher" nya lah yg telah berhasil mempengaruhi penilaian saya.

Film Bad Teacher sesungguhnya tidak istimewa dalam urusan tema. Kisah yang bertutur tentang seseorang yang berjiwa culas dan berpura-pura menjalani profesi mulia dan kemudian menyadari kesalahannya dan berakhir menjalani profesi tersebut sepenuh hati, sudah terlalu sering diangkat dalam film.

Namun nampaknya cerita klise di Bad Teacher bisa bergulir dengan renyah dengan karakter-karakter yang tak kurang klisenya juga. Separuh durasi kita dibuat tergelak dengan ulah Cameron Diaz yang culas dan gila sebagai guru. Beberapa guru, termasuk saya, bisa dengan mudah menyelami karakter yang dimainkan Cam lantaran memang terkadang kenyataan yang ada sangat mirip dengan yang digambarkan di film.

Niat sang guru yang giat mengumpulkan uang demi mengoperasi dadanya agar lebih besar memang terasa super aneh, namun eksekusi cerita from villain to a hero terasa sangat smooth dan bisa diterima sebagai turning point yang lumayan jenius.

Justin Timberlake (subjektif neeh) sangat gemilang memerankan sosok guru yang geeky dan norak yang awalnya kita kira bakal merebut hati karakter Cameron Diaz. Kali ini pesonanya bukan pada tubuh atletis, suara atau liukan tariannya. Ekspresi wajahnya dan dialog-dialog super lucunya menjadi senjata ampuh untuk tetap langgeng di dunia film.

Cameron Diaz bisa dibilang sukses memerankan si guru badung yang mau tak mau mengingatkan kita dengan karakter badung lainnya semisal di Charlie's Angels.

Dan Jason Segel....pria ini memang kebanjiran tawaran film, tapi....Jason....you should start working out in the gym...seriously, man!"

>>Ithonx<<

Tuesday, 9 August 2011

Ya Ampun....Ada FINAL DESTINATION 5...!!!

Scream 4 boleh jadi ditanggapi baik karena plot yang tergolong menarik walau jeda antar sequel 3 dan ke empat lebih dari satu dekade. Lain halnya dengan Saw. Seri pertama yang begitu mendebarkan berlanjut dengan 7 sequel sampah yang tak kunjung habis. Dan nampaknya Final Destination juga bernasib sama. Seharusnya kita cukup disuguhkan FD dan FD 2 saja karena plot masih terjaga baik walau FD 2 kedodoran juga dalam hal premis cerita. Yang terjadi malah muncul FD 3 yang terlalu dipaksakan, FD 4 yang asal-asalan dan sekarang Final Destination 5 yang belum juga dirilis sudah ditanggapi hujatan.

Boleh jadi plot pada FD orisinil yang dibintangi Devon Sawa sangat menarik dan unik untuk film bergenre horor dimana tak ada pembunuh sama sekali. Namun sequel2nya hanyalah parade pengulangan-pengulangan adegan yang sama sekali tak mendebarkan dan parahnya dibumbui adegan telanjang yang tak ada juntrungan sama sekali. Jika FD 4 saja ditanggapi hujatan, maka besar kemungkinan FD5 bakal mengalami nasib sama.

Tapi sebaiknya sebelum kita hina habis2an, kita tunggu aja dulu filmnya rilis, siapa tau ternyata bagus dan mengejutkan.

>>Ithonx<<

Saturday, 6 August 2011

INSIDIOUS >>> Film Mak Lampir Ya??


Posternya bergambar bocah kecil layaknya The Omen dengan promosi besar-besaran atas nama sineasnya yang pernah membesut Saw dan Paranormal Activity (seri pertama semua) yaitu James Wan, Insidious tampil tak terlalu mengecewakan.

Dengan nuansa ala The Others yang menakuti tanpa harus menampilkan sosok hantu berlebihan di awal cerita, Insidious cukup menarik di tiga perempat durasi. Hingga sampai pada 'oh ternyata gitu', plot terasa garing namun terselamatkan dengan twist ending yang cukup menggedor jantung.

Plot yang dipasang juga tak terlalu istimewa. Pasangan muda dengan tiga anak pindah ke sebuah rumah baru yang angker. Salah satu anak mereka Dalton tiba-tiba koma tanpa sebab bahkan secara medis tak bisa di jelaskan. Sang istri yang yakin rumahnya berhantu meminta suaminya untuk pindah rumah lagi. Dan akhirnya mereka pindah ke rumah yang tak terlalu besar. Namun keganjilan-keganjilan tetap terjadi dirumah baru hingga akhirnya mereka memanggil 'orang pintar'. Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga ini?

Terdengar seperti film-film asia ya? Mungkin karena sutradaranya orang asia yang juga katanya orang Malaysia sehingga nuansa hantu-hantuan asia begitu terasa. Bagi penonton asia rasa-rasanya plot seperti ini bisa dengan mudah diterima, namun penonton barat kayaknya tak mudah ditakut-takuti, terlihat dari raupan box office-nya yang tak terlalu memuaskan. Insidious nampak seperti cerita asia yang berusaha keras di 'barat-baratkan" jadinya.

Patrick Wilson dan Rose Byrne tak terlalu istimewa memerankan pasangan suami istri yang ketiban sial ini. Terlihat standar. Film ini terselamatkan dengan adegan-adegan yang mendebarkan ala The Others yang cukup bikin seram jika nonton sendirian tengah malam di rumah, apalagi kalo lagi hujan deras.

Tak bisa dibilang jelek, memang. Namun film ini terlihat tak mampu menyaingi film-film horor terdahulu yang lebih superior di sektor plot dan adegan2 seram. Namun lumayan untuk dinikmati.

>>Ithonx<<

Friday, 29 July 2011

SCRE4M >>> Setelah 10 Tahun, Ghostface Masih Menebar Terror...

Trilogy Scream memang masih yang terdepan dalam urusan cerita, ketegangan dan dialog-dialog cerdas tanpa mengumbar banyak adegan sadis berlebihan atau adegan telanjang tidak penting layaknya film-film horror lainnya.

Semua orang mengira kalau Trilogy Scream sudah tidak akan berlanjut lagi karena di jilid ketiga semua sudah ditutup dengan manis dan tidak memberi celah besar untuk dilanjutkan, apalagi raupan box office-nya juga tak sebesar jilid pertama.

Namun apa sih yang tak bakal terjadi di Hollywood? Karakter yang tewas pun nekad dihidupkan lagi demi sequel, apalagi di Scream tokoh utama masih hidup semua dan semua orang masih ingin melihat pembantain Ghostface. Jeda sepuluh tahun bikin Scre4m basi? bisa iya bisa tidak. Soalnya, banyak film yang lebih dari 15 tahun baru dibuatkan sequelnya.

Jeda 10 tahun ternyata bisa membuat plot yang disajikan lebih segar sehingga memberi background cerita yang lebih masuk akal. Dewey dan Gale telah menikah dan Sydney menjadi penulis buku terkenal. Hingga akhirnya Sydney pulang kampung ke Woodsboro sambil mempromosikan buku terbarunya. Reuni dengan Gale dan Dewey dan juga bertemu dengan tante dan sepupu remajanya, Sydney sangat bahagia. Tapi seperti biasa, kebahagian tersebut rusak dengan serentetan pembantaian lagi. Penonton pun kemudian hanya disuruh duduk manis sambil menunggu siapa tewas selanjutnya sambil menerka-nerka siapa sang pembunuh yang biasanya dua orang.

Terlepas dari klisenya semua adegan pembantaian, teka-teki dan plot lumayan menarik untuk tetap membuat penonton hanyut dalam kengerian. Plot menjadi pecah dua di awal, yaitu kisah Gale, Sydney dan Dewey, dan kisah sepupu Sydney, Jill dan teman-temannya. Untungnya Sydney masih mendapat peran utama dan tetap memikat penonton yang ingin tokoh ini tidak mati.

Dibarisan tokoh-tokoh lama, plot tak mengalami banyak perubahan. Hanya saja pernikahan Gale dan Dewey nampaknya kurang bahagia dengan tidak adanya bayi, apalagi hadir Judy, deputy-nya Dewey yang nampaknya naksir dengan Dewey. Gale yang ingin berkarir lagi ditambah 'hadirnya' saingan di sektor cinta, melihat peluang bagus untuk 'comeback' saat
munculnya Ghostface.

Tokoh-tokoh baru sayangnya harus tewas demi plot film horror ini. Jill, sepupu Sydney yang masih SMA bersama teman-temannya: Kirby, Olivia, Charlie, Robbie dan manttan pacarnya Trevor harus ikut terseret sebagai korban membabi buta-nya Ghostface. Beberapa tokoh mengingatkan kita pada korban-korban di versi orisinil-nya.

Lalu siapakah pembunuh di sequel in? Shocking!!

Performa trio David Arquette, Courtney Cox dan Neve Campbell masih sangat terjaga. Lantaran masih sangat bagus, maka perhatian kita pindah ke barisan cast baru. Hayden Panettiere mencuri perhatian dengan perannya sebagai Kirby Reed yang cerewet. Emma Roberts juga lumayan apik sebagai Jill. Pemeran-pemeran lainnya juga tak kalah bagusnya walau belum punya nama besar kecuali Rory Culkin yang berperan sebagai Charlie. Malang bagi si tampan Adam Brodie yang kebagian peran polisi, perannya yang kurang penting dan tewas sia-sia membuatnya begitu merana tampil di film ini.

Poin plus harus disematkan pada prolog yang menampilkan bintang-bintang serial teve beken. Adegan2 'film within film' pembantaian dua gadis cantik di awal benar-benar menggelitik dan seru. Cerdas. Anna Paquin, Kristen Bell, Brittany Roberts dan beberapa bintang teve beken rela tampil beberapa menit saja untuk kemudian tewas terbantai. Lihat dan nikmati dialog-dialognya yang cerdas dan menyindir film-film sejenis saat Scream 'libur'.

Di dengungkan sebagai awal dari trilogy baru, nampaknya kemungkinan akan sequel berikutnya masih terbuka lebar. Walau berisi pembunuhan tak ada habisnya, tapi pesan moral juga disematkan di sequel ini. Demi terkenal, membunuhpun juga bisa dilakukan seseorang.

>>Ithonx<<

Monday, 25 July 2011

X-MEN: FIRST CLASS >>> Dan Semua Berawal Di Sini...

Yang bukan penggemar komik X-Men yang katanya cukup njelimet, hadirnya X-Men: First Class ini sangat membantu untuk mengenal tokoh-tokoh penting para mutan yang munculdi trilogy dan spin off sebelumnya.

Awalnya, First Class tidak terlalu menyita perhatian Ithonx lantaran sudah dipastikan bahwa Wolverine tidak muncul. Apalah artinya film X-Men tanpa Wolverine? Apalagi bintang-bintang yang kayaknya tidak membuat nafsu menonton banyak berserakan disini. Ithonx bukan fans-nya James McAvoy yang beberapa filmya memang layak tonton juga. Nampaknya versi lebih muda-nya Mystique, Professor X, Magneto dan Beast tak membuat hati tergerak menontonnya.

Namun anggapan tersebut salah besar. X-Men First Class ternyata sangat memikat baik cerita maupun efek spesial-nya. Bagi penikmat semua film-film X-Men, First Class membuat penonton manggut-manggut sambil benaknya terus menghubungkan cerita-cerita yang telah disodorkan sebelumnya. Kita bisa tau semua asal-usul mutan-mutan sakti. Dengan gamblang film ini bercerita hubungan Xavier dan Raven (yang kemudian di kenal dengan Mystique), Hubungan asmara Erik (kemudian menjadi Magneto) dan Raven. Hank McCoy yang awalnya berwujud manusia namun berubah menjadi Beast. Dan banyak cerita lainnya yang enak diikuti.

Porsi terbesar tentu saja adalah kisah Charles Xavier yang nantinya membangun sekolah khusus mutan dan kisah pedihnya Erik Lenhserr yang kemudian bermotomorfosis menjadi Magneto yang super jahat. Jika di film ini Professor X dan Magneto muda masih bersahabat, lalu siapa tokoh jahatnya? Jangan kuatir, mutan bernama Sebastian Shaw menjadi pemicu awalnya X dan Magneto muda bersahabat dan kemudian menjadi musuh bebuyutan. Sebastian Shawadiperankan oleh aktor kawakan Kevin Bacon yang nampak lebih muda di film ini

James McAvoy dan Micheal Fessbender cukup apik memerankan X dan Magneto muda. Sementara, walau nampak kaku, para bintang muda yang memerankan mutan-mutan sakti cukup memeriahkan film ini. Beban berat harus ditanggung Jennifer Lawrence yang memerankan Raven atau Mystique. Di tiga seri sebelumnya Mystique begitu lekat dengan sosok Rebbeca Romijn yang cantik dan seksi, dan Jennifer sedikit kerepotan memerankan Mystique muda.

Tapi masa sih pemain-pemain lama tak ada yang nongol? Yah, memang begitulah adanya. Yang ada hanyalah cameo yang cukup memberi kejutan menyenangkan. Wolverine dan Mystique (Hugh Jackman dan Rebecca Romijn) muncul beberapa detik saja.

Tak perlu diragukan kalau nanti akan ada sequel lagi, karena memang layak ditunggu.

>>Ithonx<<

Monday, 4 July 2011

TRANSFORMERS 3 >>> I Just Want Megan Fox Back...!!


Sebagai bagian dari masa kecil yang indah, maka Transformers adalah tontonan wajib. Ketika film ini dirilis, maka film-film lain harus diabaikan dulu demi melihat Autobots dan Decepticons yang berperang memporak-porandakan bumi. Jilid ketiga ini masih seperti jilid-jilid sebelumnya. Hingar bingar dengan pameran CGI yang luar biasa. Namun harus diakui bahwa jilid satu-lah yang paling berkesan. Kenapa? karena saat itu kita masih bertanya-tanya akan seperti apa para Transformers ketika dibuat live action, dan ketika dirilis semua penonton merasa takjub. Selebihnya di dua jilid selanjutnya kita tidak lagi diberi kejutan-kejutan luar biasa namun hanya dibuat melototin film berdurasi panjang tersebut sambil terus bilang "What's next?"

Kali ini di jilid ketiga, musuh para Autobots bukan hanya Decepticons, namun ada Sentinel Prime yang jenius dan beraliansi dengan Decepticons mengambil alih bumi. That's it. Sub plot yang tak terlalu istimewa juga diketengahkan dengan hadirnya Carly dan Bosnya, orang tua Sam yang memaksa Sam mencari kerja, dan intrik pemerintahan.

Cabutnya Megan Fox di jilid ketiga sudah jadi berita besar jauh-jauh hari sebelumnya. Mikaela, karakter yang diperankan Megan Fox, diceritakan putus dengan Sam dan sebagai gantinya ada Carly yang diperankan Rossie Huttington. Bagi Ithonx, karisma Rosie dengan aksen Inggrisnya jauh dibawah Megan Fox. Karkater Carly yang dicemburui Sam gara-gara dekat dengan Bos-nya (Patrick Dampsey) terlalu garing dan belum loveable.

Kisah Sam yang kesulitan mencari pekerjaan sangat segar untuk dinikmati, apalagi datangnya orang tuanya yang terus mencampuri kehidupan pribadinya cukup mengocok perut: mengingatkan kita pada jilid pertama. Namun sayangnya hanya terjadi di awal film saja.

Patrick Dampsey cukup memberi kesan juga tampil sebagai villain dari pihak manusia. Sementara Josh Duhamel dan Tyresse Gibson cukup malang karena karakter yang mereka perankan tidak dieksplorasi.

Jilid ketiga ini lebih baik dari jilid kedua, walau disayangkan Megatron hanya muncul di akhir cerita saja. Namun jilid ketiga ini belum mampu menandingi jilid pertama yang paling berkesan walau dramalurgi jilid 3 juga sangat baik. Memang chemistry bagus antara Shia dan Megan tidak terjadi dengan Shia dan Rossie, namun tertutupi dengan munculnya robot Shockwave yang mengulung-gulung menghancurkan bumi. Bikin shock!

Di balik plot yang klise dan suguhan CGI yang berlebihan, Transformers 3 masih tetap menjadi tontonan yang menyegarkan mata bagi bocah-bocah (besar) yang menyukai robot dan ledakan-ledakan super dahsyat.

Jilid empat? tetap masih dinanti dong.

Monday, 23 May 2011

FREEDOM WRITERS >>> Kisah Nyata Erin Gruwell Yang Dihidupkan Hillary Swank


Hillary Swank pernah mengungkapkan bahwa dirinya hanya bermain di satu musim serial remaja populer Beverly Hills 90210 lantaran kontraknya tidak diperpanjang hanya karena kreator serial tersebut menganggapnya tidak cantik untuk menjadi bintang tetap. Hillary juga mengaku bahwa ia stres berat akibat peristiwa itu. Namun kemudian ia berujar bahwa ia bersyukur di depak dari 90210 karena akhirnya ia bisa berkarir di film, dan bahkan menjadi aktris paling dicari lantaran pernah mengantongi dua piala oscar. Kiprah Hillary seolah tak pernah berhenti hingga detik ini. Bandingkan dengan alumni serial 90210 yang masih berkubang di tayangan teve.

'Ketidak-cantikan' Hillary Swank adalah berkah bagi dirinya karena ia bisa bermain dengan peran-peran serius sekalipun ringan. Hillary Swank termasuk aktris yang mampu bermain di banyak genre. Tumpukan film-film yang pernah ia bintangi tak terbatas hanya film-film drama yang ditujukan bagi kritikus saja, namun juga film-film ringan, bahkan komedi romantis.

Satu dari banyak film berkualitas yang ia bintangi adalah Freedom Writers yang dirilis tahun 2007. Freedom Writers sendiri diangkat dari sebuah buku karya Erin Gruwell yang berisi pengalaman nyata dirinya sendiri ketika mengajar di sebuah sekolah di California. Di dukung Patrick Dampsey yang memerankan suami Erin Gruwell, Hillary mengumbar akting memukaunya yang inspiratif sepanjang film ini.

Jika Ibu Muslimah di Laskar Pelangi harus bertarung melawan keterbatasan fasilitas dan kemiskinan, maka Erin Gruwell harus bertarung dengan keberagaman, masalah rasial, birokrasi dan kejahatan di sekitar mereka.

Kita akan dibuat takjub dengan kegigihan Erin dalam mengajar siswa-siswanya. Bagaimana ia harus berjuang dengan uang sendiri demi mendidik para siswa, mencari metode yang tepat agar siswa-siswanya datang ke sekolah, bahkan mengorbankan perkawinannya.

(Erin Gruwell dan murid-muridnya yang asli)

Erin bahkan mengundang orang yang terlibat dalam buku The Diary of Anne Frank agar siswa-siswa yang ia suruh membaca buku tersebut mampu memaknai apa yang telah mereka baca. Bahkan penonton yang tak pernah tahu The Diary of Anne Frank ingin ikut membacanya.

Akhir cerita film ini mudah ditebak, layaknya dengan mudah kita juga bisa menerka apa yang terjadi di akhir cerita Laskar Pelangi. Beberapa plot bahkan terkesan mirip: Guru yang berjuang sendiri, kehilangan orang yang dicintai, dan harus ada murid yang menjadi 'tumbal'. Tapi tak apalah, film ini toh tetap inspiratif dan enak diikuti.

Sayangnya, Freedom Writers kurang mendapat apresiasi baik secara komersil dan minim penghargaan. Harus diakui jika menyebut film tentang perjuangan guru, maka khalayak ramai masih dengan fasih menyebut Dangerous Mind sebagai yang paling berkesan baik cerita, soundtrack maupun raupan uang di tangga box office.

Perhatikan poster film Dangerous Mind yang jauh lebih provokatif, belum lagi soundtracknya yang terus diputar dimana-mana dan tak akan pernah dilupakan orang (Inget Gangsta's Paradise-nya Coolio?)


Namun Hillary Swank harus tetap diberi dua jempol atas performa luar biasa yang ia tampilkan sepanjang film. Hill mampu menjiwai Erin Gruwell sang pahlawan tanpa tanda jasa itu dengan cemerlang. Dengan menonton film ini, tak seorangpun menyangkal bahwa guru adalah profesi mulia yang tak semua orang mampu melakoni dengan baik. Patrick Dampsey kali ini cuma menjadi pemanis saja, mungkin karena pada saat itu Patrick sedang naik daun lewat Grey's Anatomy, makanya ia diikutsetakan agar mendongkrak perolehan dolar.

Dan yang tak kalah apiknya adalah para bintang yang memerankan murid-murid Erin Gruwell. Murid-murid yang ada di film juga berdasarkan orang-orang yang benar-benar ada layaknya para laskar pelangi. Cukup membuat kita haru dan menyelami masalah mereka satu persatu.

Jadi, masih pengen jadi guru?

>>Ithonx<<

Tugas buat mahasiswa2 ku tercinta:

Write an essay on what it takes to be a good teacher in this so-called modern life. If you have become one, you can include your own experience to illustrate the challenge that teachers face. If you have not, you can ask some teachers or read some articles to get some insight. Also, your essay should explicitly mention your argument on how Erin Gruwell have done to her students and her own personal life. Oh, give your essay an interesting title. Enjoy. Keep writing, guys.

Friday, 13 May 2011

I AM NUMBER FOUR >>> The Alien Is Cute, The Girl Is Hot, And The Sidekick Is A Nerd. Oh, Is That Roswell?

Film alien lagi ya?

Di angkat dari novel karya duo penulis belia James Frey dan Jobie Hughes yang bertengger selama tujuh minggu berturut-turut di The New York Times Best Seller Hits, I Am Number Four adalah seri pertama dari 6 seri yang direncanakan. Bercerita tentang pemuda belia yang harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya lantaran ia adalah satu dari sembilan warga planet Lorien yang harus dimusnahkan oleh bangsa Mogadorians. Ke-sembilan bangsa Lorien ini satu persatu di bantai sesuai dengan nomer urut. Setelah urutan ketiga berhasil di bunuh, kini giliran pemuda sang pemeran utama yang kali ini memakai nama John Smith harus diberesken. Di temani oleh pelindungnya (yang menyamar sebagai sang ayah), John harus menghadapi bahaya dari alien yang kejam dan juga berusaha survive di belantara high school, sembari berusaha menyembunyikan identitas aslinya.

Jika menonton filmnya, maka nuansa serial Roswell dan Smallville terasa kental. Tak akan butuh waktu lama untuk menyamakan karakter John Smith dengan Max, Number Six dengan Isabelle, Malcolm dengan Alex dan Hannah dengan Liz, dan Mark James dengan Kyle. Tapi untungnya I Am Number Four adalah film pembuka musim panas tahun ini (bukan serial teve) sehingga pameran spesial efek dan animasi makhluk-makhluk buas cukup memanjakan mata.

Lalu apa samanya dengan Smallville? ternyata film ini di besut D.J Carusso yang sukses menggarap thriller remaja Disturbia dan Eagle Eye yang diperankan Shia LeBouff. Di balik film ini juga ada Alfred Gough dan Miles Millar yang membidani Smallville, dan juga ada Micheal Bay jagonya ledakan-ledakan dahsyat dibalik hebohnya Transformers. Keempat jenius ini paling fasih mengulik kisah remaja dengan segala masalah percintaan dan eksyen yang memikat. Jadi jangan salahkan jika I Am Number Four berkualitas baik dan mengecewakan semua yang tadinya pesimis dan menghujat. Sekuelpun sudah tak sabar di tunggu banyak orang.

Terlepas dari ceritanya yang merupakan comoton banyak cerita-cerita serial terkenal (tadi sudah disebut ya), besarnya anggaran dan tak sembarangannya orang-orang dibalik film ini memang sangat menolong suksenya film ini. Jangan lupa juga rasa penasaran penonton akan hadirnya enam tokoh lainnya yang belum hadir di seri pertama membuat orang akan menonton lagi sekuel-sekuelnya.

Lalu bagaimana dengan akting bintang2nya? Cukuplah kita bilang bahwa kerupawanan mereka cukup membuat kita tidak mengurusi buruk atau gemilangnya bakat mereka itu. Timothy Olyphant, si bintang macho yang baru memikat saya di beberapa film semisal The Crazies, Perfect Getaway dan juga serial Justified, tampil bagus sebagai pelindung John Smith. Timothy harus kalah pamor baik dari segi ketampanan dan keatletisan tubuhnya dengan bintang-bintang muda disini.

Diana Agron yang beken di serial musikal Glee seolah mengulang perannya saja. Alex Pettyfer bisa saja menjadi The Next Best Thing layaknya para pemeran Twilight. Gerak tubuh dan karakternya juga mengingatkan Jason Behr yang memerankan Max di Roswell.

Pecinta serial teve pastilah terhibur dengan film ini. Yang tak terpuaskan mungkinlah penonton yang menganggap ceritanya klise, namun paling tidak terbantu dengan kandungan aksinya. Seru, kok. Alien Fever is coming...!!

>>Ithonx<<


Saturday, 23 April 2011

THE ROOMMATE >>> Jiplakan "Single White Female"??

Lantaran sibuk membuang timbunan lemak di tubuh, jumlah film dan serial teve yang ditonton beberapa bulan terakhir ini menurun drastis. Bulan ini saja hanya 4 postingan yang baru nongol di blog ini. Di sela menonton serial produksi Cartoon Network, Tower Prep, akhirnya berkesempatan juga menonton film ini.

Terus terang, pemain-pemain ceweknya tidak familiar bagi Ithonx. Namun nama Cam Gigandet dan Matt Lanter cukup menjadi alasan untuk melirik film ini. Cam beken lewat Twilight Saga dan serial The OC, sedangkan Matt sering wara-wiri dibanyak serial teve dan beken di musim kedua 90210 dan film-film parodi.

The Roommate masuk kategori film yang mudah dilupakan dan sangat sangat sangat mudah ditebak plotnya. Para pemeran utamanya gagal dengan sukses menghadirkan performa yang prima sehingga plot yang sangat dangkal makin membuat film ini siap dicaci maki para kritikus. Benar-benar tak ada yang istimewa dalam film ini, bahkan logika penonton seperti di abaikan oleh penulis cerita.

Plotnya sangat sederhana: Sara Matthews memasuki tahun pertama kuliahnya dengan tinggal di asrama dan mendapat teman sekamar yang psikotik. Itu saja. Selebihnya adalah ke-posesif-an dan kegilaan, yang tak masuk akal, sang teman sekamar yang mengganggu semua aspek hidup Sara. Tak jelas apakah sang teman sekamar, namanya Rebecca, lesbian atau hanya butuh orang yang mengerti dirinya. Korban berjatuhan mulai dari sang dosen, teman hangout Sara, mantan pacar Sara, dan kucing kecil lucu malang.

Cam Gigandet berperan sebagai pacar Sara. Tokoh ini sama sekali tak punya greget dan bisa diperankan siapa saja. Cam pernah memukai dengan tubuh atletisnya di Never Back Down, The OC dan Twilight, mempertontonkan ilmu bela diri. Film ini seolah memubazirkan semua potensi Cam yang luar biasa itu. Matt Lanter lebih malang. Dia hanya kebagian scene yang tak lebih dari 2 menit dan hanya mati konyol di tangan Rebecca.

Jika mengharapkan mendapat tontonan thriller memukau bak Single White Female yang fenomenal, maka pengharapan itu akan sia-sia. Lubang plot yang paling kentara adalah jika Sara digambarkan sibuk kuliah dan hangout, maka Rebecca tak pernah terlihat mengikuti kuliah dan malah sibuk menguntit Sara. tentu saja ini sangat menyebalkan. Film ini juga menyalahi pakem film remaja: minim adegan telanjang (hihihi!!) sehingga semakin garing dan tak ada juntrungan.

Kalo gitu sebaiknya menlanjutkan Tower Prep lagi aja yah.

>>Ithonx<<

Thursday, 7 April 2011

BATTLE: LOS ANGELES >>> Satu Kata: Payah...!!


Niatnya mungkin ingin membuat film invasi alien dengan cita rasa Black Hawk Down atau Saving Private Ryan, namun yang dihasilkan ternyata sebuah film bising dengan banyak lubang plot serta penggambaran tokoh yang dangkal. Bintang-bintang dengan talenta besar seperti Aaron Eackhart, Bridget Moynahan, Michelle Rodriguez dan Ne-Yo terasa disia-siakan saja.

Film bertutur tentang invasi alien yang memporak-porandakan bumi sudah dengan hebat di dahului oleh Independence Day dan tak kalah heboh lagi dengan hadirnya War of The World-nya Tom Cruise. Belum lama, dengan pendekatan sudut pandang kecil, kita masih terngiang dengan Skyline. Jadi, sedari awal film ini punya tantangan super hebat untuk menumbangkan kedigjayaan film-film sebelumnya.

Penggambaran sosok alien baik di Independence Day maupun War of The World benar-benar bikin ngeri, namun yang ada di Battle: LA sangat tidak jelas. Okelah kalo mau dibilang robotik, namun lagi-lagi malah membuat film ini serasa bagai contekan Terminator-nya Christian Bale dan Sam Worthingthon, Di pakainya kamera handheld yang shaky juga bukan barang baru mengingat kita pernah juga dibuat takjub dan migren oleh Cloverfield.

Ceritanya begini: sekonyong-konyong alien datang menyerang dan diketahui mereka menginginkan air di bumi kita tecinta ini. Dan menghancurkan peradaban kita. Konyol bukan? Jika hanya menginginkan air, mengapa tak menyedotnya saja dari samudera? mengapa harus menyerang LA, bukan negara dengan banyak perairan? Sosok Aliennya mana?

Sayang sekali ide yang konon berdasarkan kisah nyata ini malah menjadi film dengan banyak cacian dan lemah dibanyak sektor. Tak usah ditanya tentang plot lantaran memang film ini tak punya plot sama sekali. Perjuangan para tentara yang gagah berani melawan para alien modern seolah tanpa juntrungan dan tak membuat kita menjadi bersimpati. Terlalu banyak klise, tidak orisinil, dan tanpa plot adalah tiga frase paling tepat untuk menggambarkan film yang ditunggu-tunggu namun mengecewakan ini.

Aliens suck...!!

>>Ithonx<<

Sunday, 20 March 2011

SANCTUM >>> Petualangan Maut Di Dasar Bumi


Kita pernah disodori petualangan seram para penjelajah goa di The Cave dan The Descent. Namun Sanctum tidak menawarkan petualangan misterius dan makhluk-makhluk pemakan daging manusia. Minus monster seram tidak membuat Sanctum menjadi tidak seru, bahkan malah membuat cerita menjadi manusiawi dan menyentuh serta masuk akal. Hubungan interpersonal antara ayah dan anak, sepasang kekasih, teman baik, dan pengambilan keputusan teramat sulit menyangkut hidup dan mati dipaparkan dengan sangat baik.

Memang cerita dan karakter sangat klise, namun bukankan semua film-film bertama survival memang begitu adanya? Cerita berawal dengan datangnya Josh, Carl dan Victoria ke sebuah goa di situs bernama Esa Ala Cave di pedalaman Papua Nugini. Di situs tersebut sudah ada beberapa orang yang terdiri dari teknisi dan penjelajah goa, salah satunya termasuk ayah kandung Josh yang jarang ia temui, Frank. Cerita bergulir dengan memperkenalkan tokoh-tokoh dan tujuan ekspedisi. Dan kemudian petualangan pun dimulai. Goa yang dituju pun bisa di capai, namun tiba-tiba alam menjadi tak bersahabat. Banjir datang dan menutup jalan keluar satu-satunya. Korban berjatuhan dan satu-satunya cara tetap hidup adalah menelusuri berkilo-kilo meter goa sepanjang air mengalir ke laut. Tanpa ada yang pernah mengekplorasi jalan berkelok-kelok tersebut, insting dan ketrampilan survival adalah bekal yang teramat berharga.

Satu persatu anggota tim tewas, belum lagi konflik antar individu yang kerap terjadi membuat petualangan bertahan hidup ini menjadi hal menakutkan.

Diproduseri oleh James Cameron yang sukses membuat orang tercengang dengan Avatar dan Titanic, Sanctum dihadirkan ke bioskop dengan tekhnologi tiga dimensi yang menawan, namun jika hanya bisa disaksikan lewat layar kaca, jangan kuatir karena keindahan dan eksotisme goa bisa tertangkap dan dinikmati dengan baik. Penonton benar-benar seperti ikut bertualang selama film berlangsung.

Seperti yang telah disebut sebelumnya, cerita dan karakterisasi film besutan Australia ini memang klise dengan ending yang mudah ditebak, namun menjelang cerita berakhir penonton diajak ikut bersedih dengan tewasnya karakter penting di film ini. Akting para pemainnya memang standar, namun kemampuan mereka menyelam dan memanjat harus diapresiasi dengan baik.

Sanctum memang bukan film dengan efek super bombastis dan cerita fresh. Malah kalau harus dimasukkan ke sebuah genre maka film ini masuk kategori drama petualangan datar. Namun sekali lagi, dengan pikiran terbukan dan tanpa ekspektasi berlebihan, Sanctum bisa menjadi alternatif tontonan menghibur dengan sinematografi yang menawan.

>>Ithonx<<

Wednesday, 16 March 2011

TAKUT >>> 6 Cerita, 7 Sutradara, ....1 Jeritan...!!


Yang menyukai antologi pasti sudah menonton Paris J'taime, atau kompilasi Stephen Kings yang mampu membuat berdecak kagum. Belum lama kita dibuat merinding dengan antologi karya anak negri Thailand dengan Phobia 1 dan 2 (ditulis 4Bhia). Mungkin dibesut dengan nafas yang sama, Takut hadir di tahun 2008 memeriahkan perfilman kita dan Asia yang ternyata mendapat sambutan lumayan bagus, dan dengan kualitas yang cemerlang. Asyiknya menonton antologi adalah kita bisa membandingkan teknik penceritaan para sineas baru dan berpengalaman dengan gaya unik mereka masing-masing.

Jika diperhatikan tulisan ditepi poster diatas, maka kalian menemukan nama-nama bintang muda Indonesia yang aktingnya tak perlu dipertanyakan. Lalu bagaimana dengan plotnya? Yuk kita telusuri satu persatu.

1. Show Unit

Show Unit membuka Takut sebagai segmen pertama. Disutradarai dan ditulis oleh Rako Prijanto. Show Unit mengetengahkan cerita tentang Bayu (Lukman Sardi) dan Dinna (Marcella Zalianty) yang baru menikah. Dinna mempunyai putri dari pernikahan sebelumnya yang bernama Shira. Satu malam, saat pesta di rumah tetangganya, Bayu melihat lampu dirumahnya menyala padahal ia yakin semua lampu telah dimatikan. Bayu kemudian pulang kerumah, dan mendapati pengalaman yang akan mengubah hidup rumah tangganya.

2.Titisan Naya

Titisan Naya digarap oleh sineas favorit saya, Riri Reza. Di cerita ini Riri ingin berpesan bahwa terkadang sikap sinis terhadap warisan budaya kita sendiri bisa berakibat buruk. Dina Olivia didapuk menjadi Naya, gadis modern yang pulang ke rumah keluarganya yang sedang mengadakan upacara cuci keris keramat adat kejawen. Dasar super cuek, Naya malah asyik menggoda sepupunya (diperankan Junior Lim) dan ujungnya berakhir mistis. Di segmen ini Dina Olivia mampu menampilkan akting kuatnya. Gambaran upacara cuci keris juga mampu digambarkan dengan sangat detil lengkap dengan mantra-mantranya.

3. Peeper

Yang ini berkisah tentang pengintip yang akhirnya kena batunya. Dengan mengusung cerita perwayangan dan sosok mengerikan dewi Durga, Ray Nayoan yang saat itu masih tergolong sineas baru, mampu membawa nuansa erotis dengan mengeksploitasi keseksian Wiwid Gunawan.

4. The List

The List sedikit ber-tone komedi namun tetap seram. Shanty dan Fauzi Badilaa kebagian memerankan sepasang mantan kekasih yang mencoba balas dendam satu sama lain dengan menyewa dukun santet. Eksekusi cerita dibuat sangat cerdas namun nampak terburu-buru dibongkar sehingga kenikmatan penonton agak nanggung.

5. The Rescue

Dengan mengusung cerita Zombie ala Resident Evil, The Rescue tidak memberi ketegangan maksimal lantaran cerita sejenis sudah ratusan kali di usung. Penampilan Eva Celia belum mampu dimaksimalkan. Tapi jelas sekali kalau garapan Raditya Sidharta ini tak kalah dengan Hollywood.

6. Dara

Inilah cikal bakal dua teman akrab yang menyebut dirinya The Mo Brothers membesut Rumah Dara yang banjir pujian dan darah itu. Jika telah menyaksikan Rumah Dara, maka tak perlu lagi membaca plotnya, hanya saja di segmen ini kita hanya menyaksikan beberapa bintang saja dengan plot yang sedikit berbeda. Saya sendiri menonton Rumah Dara dulu, baru kemudian menyaksikan segmen ini. Ritme dan kebrutalan memang tidak sebanding dengan Rumah Dara versi panjang, dimaklumi saja lantaran keterbatasan durasi. Adegan Adjie terikat rantai diruangan yang mirip kamar mandi mengingatkan kita dengan adegan film brutal Hollywood "Saw" (satu-satunya jilid 'Saw' yang saya tonton lantaran yang kedua nyampe 6 bener-bener bikin muak).

Kalau harus diberi nilai, mungkin saya akan memberi nilai 9 buat Dara, dan 8 buat The List, dan yang lainnya mendapat nilai 7. Antologi ini membuktikan bahwa Indonesia masih menyimpan ratusan cerita mistis dan unik untuk digarap dengan cerdas layaknya segmen-segmen yang ada di sini. Film-film horor kita masih terlalu dangkal dan amatiran, dan Takut membuktikan bahwa sineas bukan spesialis horor ternyata sangat mampu membesut cerita horor dengan cerdas dan menarik. The List dan Titisan Naya sangat layak di buat versi panjangnya, sementara Show Unit dan Peeper cukup efektif dengan hanya menjadi cerita pendek saja.

Kita masih ingin menyaksikan film-film horor lokal berkualitas, kan?

>>Ithonx<<

Tuesday, 15 March 2011

PINTU TERLARANG >>> Akhirnya Kesampaian Juga Nonton Film Bagus Ini..!!


Sebenarnya sudah lama sekali ingin menonton film ini dan berapa kali melihat vcd bajakannya bersliweran di mall, namun serbuan Hollywood dan setumpuk episode serial teve yang terus menggoda membuat hasrat menonton film ini seolah timbul tenggelam. Entah 'kerasukan' apa akhirnya ingin sekali menonton film anak negri yang banyak dipuji-puji ini. Atas bantuan teman baik saya Erwin yang punya keanggotaan rental vcd waralaba, akhirnya daku bisa menyewa 5 film yang lumayan susah dicari, dua diantaranya adalah Pintu Terlarang dan film antologi Takut.

Berbekal pengetahuan bahwa Pintu Terlarang banyak mendapat apresiasi di luar negri dan ending yang twist, maka cukuplah alasan memelototi film besutan Joko Anwar ini. Jika kalian belum pernah dan berniat menonton film ini, jangan sekali-sekali membaca sinopsisnya di manapun, apalagi wikipedia yang sangat tega membongkar twist endingnya. Cukup duduk manis (atau berbaring) dan nikmati alur cerita yang membuat penasaran ini.

Pintu Terlarang berkisah tentang Gambir yang berada di puncak karir sebagai seniman. Seni yang dihasilkan adalah patung wanita hamil. Sang istri, Talyda nampak begitu senang mendampingi suaminya yang tampan dan sukses di tiap eksebisi yang diadakan. Perlahan, lapis demi lapis misteri tentang pasangan ini terkuak. Sang ibu, teman-teman dan pemilik galeri ternyata menyimpan rahasia besar yang mengungkung kehidupan Gambir. Di rumah besarnya, Gambir menemukan sebuah pintu yang terkunci rapat, saat hendak di buka, Talyda memperingatkan Gambir agar jangan pernah membuka pintu tersebut apapun yang terjadi.

Sepanjang cerita, penonton diajak menerka-nerka apa yang sebenarnya rahasia besar yang terselubung, dan (maaf telah merusak kenikmatan menonton) mau tak mau mengingatkan kita dengan film Leonardo DiCaprio tahun 2010 lalu dan juga film tegang John Cussack bejudul Identity.

Joko Anwar sukses mengadaptasi novel dengan judul yang sama karya Sekar Ayu Asmara ini. Ketegangan dibuat merambat dan sinematografi sangat memukau. Setting dibuat sedikit noir sehingga kita seolah dibawa ke tempat fiktif namun universal tapi tetap bernafaskan Jakarta. Coba terka pesan apa yang ingin disampaikan Joko dengan menampilkan reklame klasik dengan tulisan "Be a good wife. Get a job"

Fachry Albar yang juga membintangi film keren Joko Anwar lainnya, Kala, mampu menampilkan akting cemerlang. Kekuatan aktingya dikuras habis-habisan untuk menampilkan performa yang luar biasa sama dengan Leonardo DiCaprio. Pemain-pemain lainnya juga tak kalah hebatnya, Marsha Tomothy yang memerankan Talyda mampu menjaga kualitas aktingnya. Ariyo Bayu, Otto Jauhari dan Tio Pakusadewo patut juga dipuji. Yang tak kalah juga adalah Henidar Amroe yang menjelma menjadi Ibu Gambir, wanita ini tidak nampak bersusah payah berakting namun mampu menampilkan kualitas yang patut dipuji juga.

Sayang sekali, film produksi tahun 2009 ini tidak diapresiasi dengan baik oleh penonton di Indonesia. Mungkin penonton lokal belum mampu menerima film dengan plot membingungkan dengan bumbu psikoligis berkualitas. Untungnya, menangnya film ini di luar negri membuat Joko Anwar menjadi semangat membesut film-film lainnya. Can't wait to see the next...

>>Ithonx<<

Wednesday, 2 March 2011

JENNIFER'S BODY & DAYBREAKERS >>> Running Away From TV Series For Today

Di sela setumpuk episode The Listener, Six Feet Under, Kitchen Confidential dan Human Target yang masih menggoda buat ditonton, tiba-tiba rasa bosan menyergap dan rasanya ingin melihat tayangan yang sekali tonton saja namun berkesan.

Mata pun kemudian tertuju pada setumpuk DVD bajakan di sudut kamar. You know what, jumlah film yang saya tonton perminggu terkadang tidak lebih dari lima. Bandingkan dengan jumlah episode serial teve yang saya tonton sehari; mungkin sekitar 10 episode perhari.

Tiap kali ke mall, saya selalu menyempatkan ke gerai DVD bajakan (bahkan terkadang mampir kesana adalah satu-satunya alasan main ke mall, hehe) untuk membeli dua atau tiga film. Namun sesampai dirumah kadang hanya saya kaparkan saja hingga berminggu-minggu sampai mood untuk menonton film datang, juga lantaran selalu tergoda dengan serial teve yang makin menarik saja. Apalagi ketika menonton film kemudian film yang ditonton tidak sesuai dengan harapan, maka rusaklah mood menonton film lainnya.

Hari ini tiba-tiba 'menemukan' Jennifer's Body' dan 'Daybreakers'. Dan ternyata kedua film tersebut lumayan enak diikuti.

Jennifer's Body mungkin tidak terlalu istimewa walau tidak bisa dibilang jelek. Ide mengorbankan gadis perawan namun ternyata tidak perawan lagi sehingga menjadi bencana merupakan ide yang lumayan menarik. Tidak orisinil memang, namun dengan alur mundur dan narasi Amanda Seyfried mampu membuat cerita sederhana pertemanan dua gadis muda ini lumayan tidak membosankan.

Soal akting, okelah ini bukan film yang membuat kritikus film atau panitia oscar dan globe menyerahkan pialanya kepada Amanda Seyfried dan Megan Fox, namun dua wanita muda cantik ini masih nampak natural memainkan peran anak SMA walau usianya tak lagi remaja.

Ending cerita bisa dengan mudah ditebak dan secara keseluruhan tidak memberi perasaan apa-apa saat usai menontonnya, namun bagi yang ingin menikmati hiburan tanpa susah payah berpikir, Jennifer's Body adalah pilihan yang tidak salah. Oh ya, di sini ada Adam Brody, inget? si Seth dari The OC.

Analisa yang terlalu berlebihan sangat tidak disarankan saat menonton film ini. Cukup duduk (atau berbaring) dengan tenang dan nikmati ceritanya. Asal tahu saja, satu episode Supernatural terkadang jauh lebih berkesan daripada plot film ini.


Film kedua yang saya tonton hari ini adalah Daybreakers. Premis cerita memang tidak baru, namun ide cerita tetap fresh dan memikat. Film vampir memang sudah sangat tak terhitung lagi jumlahnya, namun kreatifitas mengulik-ulik celah plot adalah milik film ini.

Di tahun 2019, populasi manusia mendekati kepunahan lantaran para vampir menguasai bumi dan hidup layaknya manusia. Di sebuah korporat, manusia di pelihara hanya untuk diambil darahnya. Para vampir terus mengembangkan teknologi untuk mencari pengganti darah manusia yang merupakan makanan utama mereka. Vampir yang menghisap darah vampir lain atau darahnya sendiri akan menjelma menjadi makhluk mengerikan dan akan dihukum mati: dijemur diterik sinar matahari.

Vampir ilmuwan, diperankan oleh Ethan Hawke, Edward terus mencari darah pengganti buatan namun selalu gagal hingga akhirnya bertemu sekelompok manusia yang mampu mengembalikan vampir menjadi manusia dengan cara sederhana. Niat mereka membuat mereka berjuang mati-matian melawan para tentara vampir dan petinggi pemerintah yang tidak menyetujui ide tersebut.

Harus saya katakan bahwa Daybreakers adalah film yang cukup menawan. Drama vampir-manusia ini mampu menyuguhkan dilema politik dan humanisme yang menyentuh. Sentilan tentang keinginan beberapa gelintir manusia untuk hidup abadi namun kehilangan nilai-nilai kemanusiannya cukup membuat kita merenungi hakikat menjadi manusia. Sam Neil (memerankan siapa ya, lupa namanya) yang akhirnya menyuruh saudara Edward menjadikan putrinya seorang vampir cukup memberi warna film ini.

Adegan-adegan sadis yang penuh ceceran darah tidak begitu mengerikan namun tetap mampu membuat miris. Daybreakers adalah sebuah drama mencekam yang berusaha membangun konflik diatas logika para penontonnya dengan premis 'what if'. Film ini tidak akan memuaskan bagi yang menginginkan eksyen dan pertempuran yang memenuhi keseluruhan durasi.

Daybreakers memberi kesan mendalam bagi yang mencari tontonan drama vampir dengan cerita berbobot.

Hmmm...lumayan deh dua film hari ini. Mood menonton film jadi bagus.

>>Ithonx<<

Sunday, 16 January 2011

SCREAM 4 >>> Ghostface Menebar Teror Lagi April Tahun Ini


Trilogi Scream adalah souvenir paling berkesan di genre teen slasher yang masih belum terkalahkan sampai saat ini. Bejibun film-film di genre yang sama banyak diproduksi namun belum bisa menyaingi ketegangan dan teka-teki yang dengan rapi di susun oleh Master of Suspense yang tak lain tak bukan adalah Wes Craven. Ingat bagaimana Sorority Row, Black Christmas atau Prom Night yang payah dan gagal total itu?

Akhirnya, sekuel ketiga yang diberi label Scream 4 bakal resmi dirilis tanggal 15 April 2011. Kembalinya bintang-bintang utama di trilogi sebelumnya menjadi hal yang paling ditunggu. Neve Campbell dan pasutri Courtney Cox dan David Arquette menjadi jualan paling diunggulkan di seri ke empat ini. Namun dengan embel-embel generasi baru, Hayden Panittiere yang beken sebagai Claire di Heroes, Adam Brody si geek Seth Cohen di The OC dan Emma Roberts bakal meramaikan cerita (atau menjadi korban si pembunuh bertopeng ghostface??).

Berjarak sepuluh tahun setelah film ketiga dibuat, membuat plot dan setting menjadi lebih segar. Jika di trilogi sebelumnya sang Ghostface meneror lewat telpon terlebih dahulu sebelum membunuh, maka di instalmen ke empat internet dan Iphone bakal menjadi alat teror baru.

Sebagai pecinta trilogi Scream dan serial teve (semua cast utama rata-rata mantan bintang serial teve tuh), maka film ini menjadi film paling atas di daftar film wajib tonton tahun ini.

Oh iya, ini sinopsis trailer resminya:

Sidney Prescott (Neve Campbell), now the author of a self-help book, returns home to Woodsboro on the last stop of her book tour. There she reconnects with Sheriff Dewey (David Arquette) and Gale (Courteney Cox), who are now married, as well as her cousin Jill (Emma Roberts) and her Aunt Kate (Mary McDonnell). Unfortunately Sidney’s appearance also brings about the return of Ghostface, putting Sidney, Gale, and Dewey, along with Jill, her friends, and the whole town of Woodsboro in danger.



Dikabarkan dua dari tiga karakter utama yang dimainkan Neve, Courtney dan David bakal tewas. Ahhh...tidaaaaaaaaaaaaak...!!

>>Ithonx<<