Universal

Universal
Me and films

Silahkan Cari

Wednesday, 21 December 2011

Happily Divorced >>> Gay jokes


Penggemar The Nanny nampaknya harus segera menonton sitkom anyar ini. Kenapa? Di jamin pasti bernostalgia dengan suara bindeng Fran dan gayanya yang sok centil itu. Dan beberapa bintang yang dulu bermain di The Nanny.

Kali ini Fran  melakoni waniti di usia 40an yang mendapati ternyata sang suami gay. Mereka kemudian sepakat bercerai, namun lantaran sang suami belum punya tempat sendiri, mereka akhirnya tinggal serumah. Dan bergulirlah cerita kocak ini.

Cerita sitkom ini sangat ringan. Benar-benar tipikal. Apalagi yang harus dijelaskan ya? Penikmat sitkom pasti menyukai Happily Divorced. Beberapa moments mengingatkan kita dengan The Nanny, bukan itu saja, beberapa bintang tamu memang di usung dari sitkom lawas top tersebut, seperti yang tadi di sebut. Watch it.

Hey I'm Back...

Ahh...blog ini seperti terabaikan dengan kesibukan diluar arena serial teve yang makin asyik membabi buta. Yang harus di salahkan adalah modem telkomsel yang terlalu lemot dan anehnya tetap aku pertahankan. Entah. Males ganti2 kartu lantaran telah nyaman bayaran bulanan atau internet tak lagi menarik perhatianku...


Begitu banyak serial baru yang begitu rakus aku ingin tonton, namun apa daya kerjaan bertumpuk harus aku selesaikan. Necessary Roughness yang begitu legit, The Glades yang seru atau Terranova yang tak kunjung menarik perhatian ku rasanya ingin di curahkan ke dalam blog ini, tapi apa daya.....it's all about time...ah....

Mulai dua minggu lalu aku juga mulai berbagi serial teve ke orang-orang yang siapa tahu bakal ketagihan juga...yah walau jadinya kayak orang jualan gorengan...gak apalah at least I can share...

Rasanya ingin kembali menulis semua yang aku nikmati di layar kecil televisiku walau hanya sedikit orang yang menikmati apa yang aku tulis...Gak bisa janji kapan bisa mulai nulis lagi but I promise it's gonna be anytime soon.

Di teve lokal ada serial Laskar Pelangi The Series tapi kok gak pernahsempet ketonton ya? ato memang belum maen ya? Ada juga Kitchen Musical tapi selalu lupa pas serial ini tayang hingga akhirnya gak fokus nontonnya. I hope the dvd version will be released soon.

Sementara di arena serial barat, nampaknya serial2 menahun masih tetap menguasai rating. Musim2 berikutnya Bones, Fringe, Desperate Houswives, One Tree Hill dan sedikit lainnya tetap menjadi tungguan yang manis.

Di jajaran sitkom nampaknya Happily Divorced yang paling menarik perhatianku. Apa karena sudah familiar dengan gaya banyolan Fran Drescher ya?
Janji bakal di share disini semua besok-besok ya....

Saturday, 5 November 2011

MAD LOVE >>> Cinta Memang Gila2an...


Dunia sitkom memang menyenangkan. Tak ada sedih dan duka. Semua masalah tampak begitu mudah dan setiap masalah bisa di selesaikan dengan menyenangkan.

Sitkom satu ini menyoroti empat muda mudi. Ben dan Larry yang berprofesi sebagai pengacara muda. Kate dan Connie yang berteman dari kecil. Ben dan Kate tak sengaja bertemu dan dengan sedikit liku akhirnya jatuh cinta. Kehidupan cinta mereka direcoki dengan seru oleh ulah Larry yang tambun namun penakluk wanita, dan juga problematika Connie yang susah mencari pacar. Mungkin dari sini bisa ditebak kalau Larry dan Connie yang selalu saling ejek memendam perasaan.

Di sela-sela masalah percintaan ringan, penonton juga di sodori karakter lain semisal Tiffany, si pirang cantik tapi blo'on "majikan" Connie yang beranak kembar. Lantaran suaminya tak pernah di rumah dan Tiff sangan tidak bisa mengasuh bayi, maka Connie yang mengasuh bayi2nya sering mengundang Kate ke rumah Tiff sehingga mereka menjadi berteman. Dan dilema pun menimpa Larry. Apa ya?

Sesederhana itukah cerita MAD LOVE? Yupz, ini kan sitkom. Kekuatan sitkom terletak pada karakter utama yang menyenangkan dan teman-teman yang menyebalkan namun membuat cerita seru. Dan Mad Love menaati formula dasar itu.

Jason Biggs nampak bisa menyelami perannya. Harap maklum, komedi adalah lahannya dan berperan culun nan menyenangkan adalah keahliannya. Sarah Chalke yang sebelumnya bermain kocak di Scrub juga terlihat fasih melakoni peran tipikal Kate. Judy Greer dan Tyler Labine yang memerankan Connie dan Larry bak kucing dan tikus sangat pas.


Walau cerita sangat klise alias tipikal sitkom dengan penyelesaian yang gampang, namun dialog-dialog cerdas mengalir dengan deras. Saling ejek antara Larry dan Connie terasa seru dan berisi dan harus diakui inilah yang membuat sitkom ini menjadi terasa berisi.

Sayang, kabarnya sitkom Mad Love ini hanya dibuat satu musim saja. Kecewa sih, tapi tak apalah, 13 episode sudah cukup membuat kita terbahak walau sebenarnya potensi untuk membuat cerita berkembang masih sangat terbuka.

>>Ithonx<<

Saturday, 29 October 2011

TERMINATOR: THE SARAH CONNOR CHRONICLES >>> Seru di Awal, Melempem Di Akhir


Bagi penggemar film Terminator dan seque-sequealnya, tidak menonton serial ini tidaklah apa-apa. Serial dua musim ini tak memberi pengalaman menonton yang sangat luar biasa. Pertama, dimaklumi saja kalau ini hanyalah serial teve dengan bujet terbatas (dibandin filmnya), dan kedua film ini menitikberatkan pada dramalurgi dengan bumbu eksyen sedikit dan lebih menggali sisi psikologis ibu John Connor, Sarah Connor.

Yang belum pernah menonton seluruh seri Terminator (what??) di jamin bakal kesulitan mencerna jalan cerita nampak tidak ada juntrungan.

Males ah ngomongin plot. Ngomongin artisnya ajalah. John Connor diperankan Thomas Dekker yang setelah serial ini (di) tamat (kan) bermain di beberapa film yang kurang box office. THomas memang agak mirip dengan Nick Stahl yang memarankan John Connor versi film. Namun Thomas punya wajah lebih kalem dan tampan. Aktingnya tak bisa dibilang luar biasa. Standar lah. Tak ada lonjakan emosi maupun pergulatan batin luar biasa pada karakter ini sehingga semua hal tampak begitu lempeng tanpa kejutan bagi si John.

Lena Headey kebagian peran sentral di sini. Sebagai Sarah Connor, sang ibu. Aktingnya memang bagus, tapi tak terlalu mengundang simpati mendalam bagi penonton.

Hadirnya Brian Austin Green sebagai Derek, paman John lumayan menyegarkan di beberapa episode, namun makin mendekati akhir, karakter ini tak memberi banyak kontribusi terhadap plot yang sebenarnya sudah bagus, namun terlalu dipanjang-panjangkan.

Yang cukup mengesankan adalah para mesin yang cukup baik dimainkan aktor-aktor yang sudah akrab di mata pecinta serial teve. Shirley Mansion, vokaliis band Inggris Garbage yang eksentrik itu kebagian peran yang ngepas dengan dirinya: Cairan Metal yang menyamar sebagai Katherine Weaver. Tak kalah bagusnya adalah Garret Dillahunt pada saat memarankan John Henry. Dan Summer Glau yg berperan sebagai si mesin cantik Cameron.

Serial ini memang bagus di awal musim. Episode pertamanya saja banyak dipuji-puji kritikus, namun makin lama cerita terasa garing dan tak ada lonjakan plot yang membuat kita betah untuk berlama-lama mendengarkan dialog-dialog yang terkadang terlalu biasa dan tak cerdas. Tapi tetap saja serial ini layak tonton.

>>Ithonx<<

Wednesday, 19 October 2011

CAPTAIN AMERICA: FIRST AVENGER >>> Gak Sabar Nunggu THE AVANGERS

Gempuran film2 superhero di tahun 2011 memang dahsyat. Satu yang mencuri perhatian dan berhasil meraup banyak uang adalah sosok superhero Marvel yang ternyata memang sangat enak untuk dinikmati. BIntang utama-nya Chris Evans memang sudah pernah melakoni peran superhero dalam Fantastic Four, namun nampaknya peran Captain America inilah yang mengangkat nama Evans ke level lebih tinggi. Uniknya, media terutama internet banyak membahas perubahan tubuh Evans yang luar biasa dan gambar-gambarnya tanpa kaos yang menunjukkan otot dada-nya menjadi promosi hebat, padahal gambar itulah satu-satunya adegan Chris Evans bertelanjang dada dalam film ini. Memang, perubahan tubuh Evans yang luar biasa banyak menginspirasi para pria yang ingin membentuk otot, tapi sebenarnya tak lebih istimewa dari apa yang dilakukan Taylor Lautner kan?




Oke, di dalam filmnya Evans yang memerankan Steve Rogers digambarkan kurus ceking namun bercita-cita luhur untuk menjadi seorang tentara yang membela negaranya dalam memerangi Nazi. Tentu saja yang ada di layar bukan tubuh Evans sebenarnya. Kepalanya sih iya, namun tubuhnya tentu saja hasil CGI. Banyak yang menganggap CGI-nya sangat sempurna, namun bagi Ithonx terasa aneh lantaran kepala Evans terlihat begitu besar. Tapi untunglah kita tak perlu berlama-lama melihat Chris Evans eh Steve Rogers yang kurus dan pendek. Dengan bantuan serum ajaib, Steve Rogers berubah menjadi Captain America yang sempurna.

Cerita kemudian mengalir standar. Kisah cinta dan persahabatan menjadi bumbu yang mengantar ke plot utama yaitu memerangi villain. Tak ada lonjakan emosi yang berarti layaknya saat kita menonton Spiderman-nya Tobey McGuire. atau Batman-nya Christian Bale. Tak juga saat Rogers kehilangan sobat kentalnya, Bucky. Tapi tak apalah, mungkin superhero yang satu ini memang dibuat dengan tone yang berbeda.

Kita juga harus jeli saat di awal cerita kita disodori prolog yang nantinya mengantar penonton ke ending-nya. Sesuai judulnya: The First Avangers, maka kita harus maklum jika film ini hanya 'sekedar' mengenalkan siapa itu Captain America. Yang sudah menonton Thor, maka bersiaplah nanti kehadiran Thor, Captain America, Hulk, Iron Man, dan lain-lain dalam satu film superhero paling ditunggu: The Avangers. Ah, gak sabar.

>>Ithonx<<

Sunday, 16 October 2011

DON'T BE AFRAID OF THE DARK >>> Monster of The Toy Soldiers

Baru disodori film rumah berhantu di Insidious, jadi maklum saja jika harus membanding-bandingkan film ini dengan film setan-setanan tersebut. Film ini memang patut ditunggu apalagi dengan menjual nama Guilermo Del Toro yang makin mantap dengan karya-karya horor yang cerdas. Bagi Ithonx, Shyamalan, Del Torro, Craven adalah jaminan buat horror bermutu tanpa ceceran darah terlalu berlebihan. Del Torro memang tak duduk di kursi sutradara, hanya menulis naskahnya saja, namun tetap saja nama besar yang terpampang di poster sangat menjual.

Balik lagi ke perbandingan film ini dengan Insidious. Banyak kesamaannya memang: Rumah berhantu, pasangan muda, dan anak kecil yang diteror menjadi klise jika saja tidak di olah dengan baik.

Don't be afraid of the dark di buka dengan adegan mendebarkan seorang bapak tua yang mencongkel gigi pelayannya demi mempersembahkan gigi-gigi tersebut agar sang anak kembali padanya. Namun yang terjadi adalah sang bapak tersebut terseret kedalam "alam" lain yang ada di basement rumah super besar-nya tersebut. Ithonx pribadi menilai adegan ini merupakan spoiler. Lebih enak jika cerita ini di buat jadi flashback saja.

Scene kemudian berganti dengan cerita Alex dan Kim yang menjemput bocah cantik bernama Sally dari bandara. Diketahui kemudian bahwa Sally adalah putri Alex yang dikirim sang istri, bercerai dengan Alex, agar tinggal di rumah besar Alex. Sally nampaknya sulit menerima kenyataan bahwa ayah-ibu-nya bercerai, apalagi sang ayah sudah akan menikah dengan Kim.

Konflik klise antar ayah-putri-calon ibu tiri bergulir klise. Untungnya tak dibuat berlarut-larut lantaran Sally menemukan jendela basement dirumah baru mereka. Jelas dengan mudah kita bisa menebak bahwa rumah baru Alex dan Kim adalah rumah yang sama yang dtinggali bapak tua yang bernasib malang di awal cerita.

Dengan insting ingin tahu yang berlebihan, Sally tanpa sengaja melepas makhluk-makhluk imut takut cahaya mengerikan yang menginginkan gigi-gigi dan nyawanya. Selebihnya cerita bergulir dengan pakem yang sangat-sangat klise. Yup, bocah yang sering berulah tak dipercaya saat apa yang ia ceritakan adalah kenyataan. Sang bocah mencari bukti namun tak digubris hingga akhirnya teror datang dan semuanya terlambat....

Semua misteri, dongeng, dan teror terkuak di menit-menit terakhir hingga menuju akhir yang lumayan bikin miris. Keseluruhan cerita memang tak bisa disebut gemilang, namun tetap saja klimaks yang baik, cerita yang tak bertele-tele dan keingin-tahuan penonton akan ending-nya menjadi nilai bagus untuk film ini.

Rasa-rasanya sepanjang menyaksikan film ini kita diingatkan film-film tentang makhluk2 imut bengis semacam The Gremlins, Toy Soldiers, atau beberapa episode The Twilight Zone. Tapi tak apalah, cerita yang tak orisinil ini mampu dikembangkan dengan baik kok.

Katie Holmes bermain sangat datar disini. Mungkin karena naskah tak memberi banyak ruang untuk karakternya berkembang, namun ending film ini akan membuat kita terus mengenang karakter Kim yang ia mainkan. Sama halnya dengan Guy Pierce. Aktor tampan kawakan ini kurang mengena memerankan sosok bapak. Bandingkan dengan pasangan Patrick Wilson dan Rose Byrne di Insidious yang sangat tertekan secara psikologis.

Akhirnya tumpuan film ini hanyalah akting si bocah Bailee Madison yang memerankan Sally. Memang Bailee bukanlah Dakota Fanning yang brilian itu. Namun aktingnya cukup menggigit. Mungkin karena jam terbangnya diserial teve lumayan tinggi ya.

Secara keseluruhan, Don't be afraid of the dark tak memberi 'ketakutan' yang hebat bahkan terasa biasa tanpa cita rasa horor yang kental. Tapi sebagai tontonan sekali tonton, lumayanlah...

>>Ithonx<<



Thursday, 22 September 2011

FAST 5 >>> THE SHAVED HEADS RULE...!!


Sebagai franchise yang paling mengandalkan kebut-kebutan mobil sebagai jualan utama, film yang dibintangi pria-pria macho ini masih yang terdepan dan belum terkalahkan. Dan nampaknya seri-seri berikutnya akan terus dibuat.

Seri ke 4 sangat membuat penonton kecewa dengan matinya tokoh yang dimainkan Michelle Rodriguez, namun kejutan manis akan muncul di seri ke enam nampaknya jika menilik ending yang ada pada instalmen ke 5 ini.

Fast 5 lebih istimewa dalam beberapa hal. Pertama di sutradarai Justin Lin yang menyutradaria Tokyo Drift yang bagi banyak orang tidak diakui sebagai seri Fast and Furious. Namun ternyata Justin Lin mampu memboyong pemain-pemain di seri sebelumnya. Tyrese Gibson yang muncul di seri ke 2 menggantikan Vin Diesel berhasil digaet. Sementara bintang-bintang utama, kecuali Michelle, tetap melanjutkan perannya. Jika saja Lucas Black, Michelle Rodriguez, Devon Aoki, dan Eva Mendez (cuma cameo di seri ini) ikut bermain juga, maka film ini layak mendapat A plus. Namun Eva dan Michelle sudah dipastikan muncul di seri ke-6. Untungnya hadirnya Dwayne Johnson mampu mengangkat seri ini ke level adrenalin tingkat tinggi. Dan jadilah film ini dikuasi binntang-bintang berotot berkepala pleontos: Vin Diesel, Dwayne Johnson, dan Tyrese Gibson.

Plot masih seputar usaha Don, Brian, dan Mia yang jadi buronan. Kali ini mereka terperangkap di Brazil dan dikejar-kejar para polusi korup sekaligus diburu oleh agen pemerintah yang tak lain Luke Hobbs yang diperankan Dwayne The Rock.

Dengan pertolongan Vince (inget? yang naksir Mia di seri 1?) dan rekan-rekan lama mereka, Dom cs merencanakan hal-hal gila yang tentu saja melibatkan mobil dan baku hantam di jalan raya.

Bertemunya Luke dan Dom lumayan monumental dan cukup memberi ketegangan tersendiri. Duo Big Muscle ini terlibat baku hantam yang sangat seru. Hadirnya Vince (walau harus tewas, spoiler!!!) memberi kesan baik sehingga seri ini nampak punya koherensi yang bagus. Lainnya Tokoh Han yang sedikit mengganggu. Loh kenapa? Han awalnya tampil di Tokyo Drift yang kita tahu adalah cerita paling terdepan. Sementara kita juga tahu Han tewas di akhir cerita Tokyo Drift penonton menjadi kasihan dengan tokoh ini walau diakhir cerita dia bahagia. Jika Lucas Black tampil di seri selanjutnya, maka tokoh Han jelas harus ditiadakan.

Oh ya, hadirnya Tyrese Gibson dengan banyolan2 kocaknya membuat film ini segar layaknya di seri ke-2.

Indikasi bahwa tokoh yang diperankan Michelle Rodriguez akan kembali cukup besar. Hadirnya Eva mendez di akhir cerita menandakan bahwa dua wanita seksi tersebut bakal tampil lagi. Sementara tokoh Dom terlihat bahagia mendapat kekasih, apa jadinya jika sang pacar yang semua orang kira telah tewas, Leti, ternyata masih gentayangan menjadi bajing loncat?

Apa The Rock akan hadir juga? Entahlah, tapi jika benar tentu saja akan menjadi sajian yang menggigit. Atau mungkin kali ini Dominic Purcell saja yang di gaet. The other muscular shaved head must be in.

Memang The Fast and The Furious orisinil dianggap klasik karena adegan car race-nya yang tak terlalu berlebihan sebagai film eksyen, dan sequel2nya dianggap hanya film2 mediocre dengan eksyen yang tidak realistis. Tapi misi film ini sebagai hiburan haruslah tetap dihargai. Dan lagi, antusiasme penonton adalah darah bagi kelangsungan franchise ini.

>>Ithonx<<

Wednesday, 21 September 2011

TRUE BLOOD SEASON 4 >>> Too Crowded...!!!

Musim ke empat serial yang per musimnya hanya mengemas 12 atau 13 episode saja ini makin mencekam. Cerita di tiap episode begitu mengalir deras. Namun banyaknya karakter dan makhluk2 supranatural yang terus bermunculan menjadikan musim ini terlalu ramai. Tidak kehilangan fokus, sih. Tapi tetap saja membuat menjadi berlebihan.

Karakter Alcide si werewolf memang membuat segar, namun terasa sebagai sempalan saja. Sementara masuknya karakter-karakter baru terkadang mubazir, atau mungkin disimpan dulu sebagai kejutan nantinya.

Untungnya koherensi cerita berjalan mulus. Cerita tak lagi hanya berpusat di bar Merlotte lantaran setiap karakter utama membuat plot-plot tersendiri yang terkadang berhubungan setelah satu tahun kemudian. Sookie yang terlibat cinta segitiga sensual bersama Eric dan Bill terus ikut campur dengan perlawanan para penyihir yang ingin melenyapkan para penghisap darah. Tara dan Laffayette yang awalnya membuat plot tersendiri ikut terseret dalam masalah Sookie di akhir cerita. Jason, Hoyt, Jessica dan Andy tak kalah menghadapi masalah seru pula. Sementara Sam masih berkutat dengan adiknya yang super bengal.

Tokoh-tokoh baru ikut meramaikan serunya cerita. Marnie, Jesus, Debbie dan sederet lainnya membuat semarak serial vulgar ini.

Kejutan-kejutan di tiap episode membuat penonton terpaku untuk menantikan kelanjutannya. Ketegangan benar-benar merambat dan terjaga dengan baik.

Musim empat ini masih tetap mempesona dan memukau.

>>Ithonx<<